Dahsyatnya shalat Subuh berjama’ah dan sedekah

Senin, 12 Januari 2009 09:27:16

Majalah sharing


Mungkin tidak banyak pengusaha yang lima tahun berturut-turt selalu shalat subuh berjamaah di Masjid. Merasakan hikmah di balik shalat shubuh berjamaah di Masjid. Muhammad Bhakty Kasry, pemilik dan komisaris pandu Siwi sentosa (pandu logistics group), mengajak karyawanya shalat Shubuh berjamaah di masjid di tempat masing-masingatau di Masjid dekat kediaman Bhakty di Perumahan Timur, Kalimalang, Jakarta timur tiap ahad.

Melintasi kawasan klender Jakarta Timur, kita akan melihat sebuah bangunan besar miri gudang. Di bagian atasnya tertulis Pandu Logistics. Dengan 150 cabang di seluruh Indonesia. Perusahaan ekspidisi yang dirintis Bhakty kini menjadi nomor tiga terbesar di Tanah Air. (di luar perusahaan internasional seperti DHL, Fedex, TNT, dan UPS)

Muhammad Bhakty kasry dilahirkan di Medan, 30 April 1953. Lelaki yang mempunyai latar belakang pendidikan di bidang keuangan dan perbankan itu pernah bekerja selama 10 tahun di perusahaan air ekspres dunia, yakti PT. Birotika semesta (DHL) pusat Jakarta (1983-1992). Karirnya cemerlang, sehingga suami Ellin Susesmiati itu meraih prestasi tertinggi yan pernah dicapai orang Indonesia di perusahaan kurir kelas dunia tersebut, yakni National Major Account and Sales Development manager, jabatan tertinggi di Bidang Sales dan Marketing

Selama bekerja di DHL prestasi yang terbesar adalah membuka dan membangun cabang (Networking) di seluruh Indonesia dengan lebih dari 20 cabang dan berhasil menggaet custumer besar diantaranya bank BUMN, perusahaan yang bergerak di bidang oil, gas, dan mining. Bhakty sendiri pernah dinobatkan sebagai ‘The Best Sales Performance’

Pengalaman itulah yang dijadikan modal oleh ayah tiga anak itu untuk menembangkan bendera perusahaan jasa pengiriman bara dan dokumen (Express Courier) Domistik yan peka waktu dengan motto “KIRIMAN SATU MALAM”. Diusianya yan sudah 14 tahun, PT Pandu Siwi Sentosa berkembang sangat pesat dengan cabang di 150 kota dan 2.500 karyawan

Ihwal pendirian Pandu Logitics Bhakty menyatakan satu hari ia disindir seorang temanya. “Apa kamu mau terus menerus membesarkan perusahaan asing dan menyetorkan duit kepada bule-bule?” Pertanyaan itu dirasakan Bhakty menyindir dirinya yan memang sedang di titik jenuh. Secara financial, dia merasa, cukup baik. Rumah, modal semau sudah ada. Tapi ya itu saja, tidak bias berkembang lebih jauh.

Bhakty mengaku tergugah akhirnya dia keluar darri perusahaan tersebut, dan memberanikan diri mendirikan perusahaan sendiri. Karena latar belakang sepuluh tahun di perusahaan kurir, dan merasa cukup menguasai bidang tersebut, Bhakty pun merintis Pandu Logistics. Namun Pandu Logistics diberikan paman Bhakty yang suka wayang. Pandu adalah salah satu tokoh wayang

Perjalanan perusahan pada awal cukup berliku. Meski networking sudah luas, perusahaan bersedia memberi order. “Saya memulai dari nol dan sulit sekali membangun kepercayaan relasi, “kata Bhakty

Yang datang kemudian adalah orang yang tidak dikenal. Mereka mempercayakan pengiriman barang dan dokumen ke Pandu logistics. Jangankan kantor cabang, kendaraan utnuk mengirim barang pun masih pakai kendaraan pribadi. Sementara karyawan di perusahaan pada awalnya adalah kolegan dan mantan anak buahnya di DHL

Pada awal pendirian itu, Bhakty mengaku sebagai pendiri, direktur, dan staf sekaligus. Semua pekerjaan dari awal sampai akhir ditangani sendiri. Saya harus menguasai sendiri produk supaya bias meyakinkan klien. Sebagaimana di tempat komitmen pekerjaan terutama komitmen pekerjaan terutama ketepatan waktu pengiriman betul

Motto Pandu logistics adalah “kiriman Satu Malam”. “Alhamdulillah itu bias kami buktikan dan konsumen puas sehingga makin percaya ke perusahaan saya. “Dari satu perusahaan, pandu kini berkembang menjadi sebuah Holding.

Bhakty mengakui lima tahun pertama merupakan masa yan paling sulit. Dan setelah 14 tahun, Bhakty merasakan buah manis dari usahanya. Pandu Logistics Group telah berkembang menjadi perusahaan kurir nasional yan cukup besar dan disegani.

“Atas semua itu, saya sangat bersyukur. Saya yajin semumi itu hanya mingkin terjadi atas bimbingan Allah dan doa orang tua”. Bhakty juga mengaj\ku bersyukur dipertemukan dan didekatkan dengan Ustadz Muhammad arifin ilham, tuan furu Mustafa Umar, ketua MPR hidayat Nur Wahid, Ustadz Aman Syafrudin, Ustadz Jafar Thalib, KH Abdullah Gymnastiar, Imam Masjidil Haram Syekh Ahmad Sudais, dan lani-lain.” Kedekatan dengan para ulama itu, saya yakin membawa berkah.”

Hikmah Berbagi

Sukses secara financial, tak membuat Bhakty lupa diri. “saya merasa punya bakat alam berbagai rasa dan peduli dengan oran lain yang membutuhkan.” Dalam hati kecilnya, kata Bhakty, jika ia bias berhasil dan sukses dalam bisnis maka ada banyak orang yang terbantu. Dan juga merasa haus bias berzakat, berinfak, dan bersedekah baik atas nama perusahaan maupun pribadi.

“kita hidup ini saling membutuhkan. Bukan hanya karyawan butuh saya, tapi saya butuh mereka.” Dengan keyakinan itu, kata Bhakty, ia akan berusaha menahan karyawan yang berniat mengundurkan diri. Bahkan jika perlu ia akan menaikkan gaji karena menurutnya karyawan itu asset yang paling berharga.” Lagi pula mendidik orang itu tidak mudah, “katanya

Dalam kesenangan diri pun Bhakty berniat berbagi. Ia hobi traveling. “saya yakin karyawan juga pasti ingin jalan-jalan keluar kota atau ke luar negeri, “hadiah itu diberikan kepada karyawan yang selalu menjaga shalat shubuh berjamaah dan disesuaikan dengan siapa yang paling lama mampu shalat berjamaah di masjid tanpa terputus seperti tiga bulan, enam bulan, atau bahkan satu tahun.

Reward berupa perjalanan umrah dan haji juga diberikan kepada karyawan. Pun hadiah yang berupa sepeda motor, mobil, dan paket THR dan Ramadhan. Bhakty mengaku membayar THR pada awal bulan dan memberi intensif bagi karyawan untuk buka puasa, uang ketupat, baju koko, sarung , dan hadiah lebaran ½ bulan gaji diluar THR. “jadi total THR di tempat saya kira-kira dua bulan gaji.

Saat baru memiliki du perusahaan Bhakty memberanikan diri memberangkatkan karyawnyan haji dan memberi fasilitas perumahan. Ia memasukkan nilai sedekah kepada anak yatim di dalam aktivitas perusahaan. “waktu di kantor ada 700 karyawan, saya membuat slip gaji untuk 713 orang. Yang 13 itu adalh jatah anak yatin melalui yayasan dan pengelola. THR dan hadiah lainnya juga berlaku untuk mereka. “jadi jika karyawan dapat THR, anak-anak yatim juga dapat.

Untuk ustadz Arifin Ilham, malah Bhakty akan menyerahkan hak anak yatim sesuai nilai yang diminta oleh ustadz muda tersebut. Bhakty memperlihatkan sms dari Arifin Ilham yang menyatakan bahwa jatah dia untuk bulan ini adalah 4,2 juta

Bhakty meyakini bahwa perkembangan bisnisnya juga tak lain dari berkah yang diberikan Allah lewat anak-anak yatim dan doa yang dipanjatkan karyawan. Bhakty yakin, karyawan yang mendapat hadiah naik haji atau bonus jalan-jalan akan berdoa untuk kelanggengan perusahaan, ia juga bersyukur istrinya tak keberatan dengan kebiasanya. “Dua kali saya bertanya kepada istri, apakh selama 22 tahun menikah, uang untuk dia berkurang. Istro menjawab tidak, malah bertambah. “Bisnis dan kerja sama dengan pihak lain diluar negeri terus berkembang.

Inilah bukti janji Allah, “kalau kamu belanjakan hartamu dijalan Allah, akan aku ganti.” Bhakty sangat yakin akan hal itu dan merasakan kemudahan dalam bisnis, urusan, risky, dan keluar dari setiap persoalan rizki dan jalan keluar dari setiap persoalan di samping hidupnya yang tenang dan nyaman.

Mengejar shubuh berjamaah

Sebagai salah satu perusahaan waktunya pasti amat tersita untuk bertemu relasi. Tapi itu tak membuat Bhakty lupa akan shalat Shubuh berjamaah di Masjid sekitar ruamh atau masjis lain di Jakarta. Saban pagi, bahkan ia harus keluar rumah dari pukul 03.00 dinihari untuk mengejar shalat shubuh di tempat lain. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana Anda memulai shalat Shubuh berjamaah di Masjid?
Ini ada riwayatnya. Suatu pagi di bulan Agustus 2002, pada acara zikir akbar di Lombok, saya ditegur oleh Pimpinan Majelis Az-Zikra, Ustadz Muhammad Arifin Ilhan. “Ayahhanda, Anda sudah terlalu banyak memdapat karunia dari Allah SWT. Apa alas an Ayahhanda belum menjalankan shalat shubuh berjamaah di Masjid?” begitu tanya beliau
Sejak itu saya bersumpah di hadapan Ustadz Arifin Ilham dan tuan guru Mustafa Umar selaku ulama di Lombok, bahwa saya tidak akan meininggalkan shalat shubuh berjamaah di Masjid. Ustadz Arifin Ilham lalu memberikan kiat khusus agar saya menjalankan shalat shubuh berjamaah selama 40 hari berturut-turut dimasjid atau mushalla. Kiat ini untuk menghilangkan sifat malas yang menghinggapi diri saya

Sebagai seorang pengusaha, Anda tentunya sangat sibuk. Bagaimana Anda mengatur waktu untuk Shalat Shubuh berjamaah di Masjis, apakah Anda tidak merasa capek dan berat?

Terus terang, awalnya saya berat sekali bgi saya untuk melakukan Shalat Shubuh Jamaah di Masjid. Rasa kantuk dan malas senantiasa menyergap. Apalagi sebagai pengusaha, pekerjaan saya padat dan terkadang pulang larut malam. Dalam keadaan sangat capai, saya harus bangun dini hari menjelang shubuh yan dingin dan manakala orang masih terlelap tidur, untuk menuju mushalla atau masjid. Ini bukan hal yang mudah

Namun perlahan-lahan dapat saya lewati. Rasa kantuk dan malas tidak lagi mengganggu saya. Yan terjadi justru sebaliknya, saya merasakan kenikmatan batin, ketengan dan khusyukan manakala melaksanakan shalat shubuh berjamaah

Untuk menggelar target shalat Shubuh berjamaah di 40 masjid itu, saya ditemani oleh sopir dan beberapa orang staf. Tiap hari kami berangkat dari rumah saya antara pukul tiga hingga empat dini hari, tergantung jauh-dekat jarak masjid tersebut. Hal ini kami lakukan setelah shalat tahajjud dan witir

Berburu shalat shubuh itu tidak hanya saya lakukan di Jakarta, melaikan juga hingga ke luar kota. Karena Pandu Logistics mempunyai cabang di berbagai kota, hal itu juga makin mudah

Akhirnya, setelah program 40 Masjid itu terlampaui, saya menjadi cinta shalat shubuh berjamaah di Masjid. Sejak itu, shalat Subuh berjamaah bagi saya merupakan harga mati, tidak bias ditawar lagi. Dimana pun saya berada, bahkan saat ke luar negeri sekalipun. Demikian pula saat dirawat di ruamah sakit pun, saya shalat Shubuh di masjid rumah sakit. Mungkin seperti kata peribahasa, ala bias kerena biasa

Bagamana Anda mengajak para karyawan shalat shubuh berjamaah?

Setelah memulai dengan diri sendiri (ibda’binafsika) dan keluarga selama kurang lebih setahun, saya lalu mengajak para karyawan untuk shalat shubuh berjamaah di Masjid An-Nur, Perumahan Permata Timur, Kalimalang, Jakarta Timur, yang terletak di samping rumah saya. Kegiatan itu diadakan rutin tiap hari ahad. Mula-mula jamaahnya hanya 20 orang, akhirnya berkembang sampai 300 orang. Mereka saya sediakan transport dan saya sediakan sarapan pagi. Besarnya transport itu Rp 50ribu-Rp 100ribu per orang. Dalam seminggu rata-rata Rp 15 jura atau Rp 60 juta sebulan.

Tahun pertama besarnya ongkos tersebut sekitar Rp 800 juta. Ketika jamaah makin banyak, jumlahnya mencapai lebih dari Rp 1 milyar pertahun. Tidak hanya di kantor pusat Jakarta, saya juga menggerakkan karyawan di daerah untuk shalat Shubuh berjamaah. Saya menunjuk coordinator per wilayah. Mereka saya minta mengisi formulir untuk laporan, dan mengatur uang transport untuk karywan yang shalat shubuh brtjamaah. Ada juga kegiatan qiyamullail yang dilanjutkan dengan shalat shubuh berjamaah tiap bulan sekali. Selain itu saya menggelar pengajian rutin dan khatam al Qur’an di kantor pusat Pandu Logostics tiap jum,at pagi. Program qiyamullail dan khatal al Qur’an yang meililbatkan para karyawan itu berlangsung selama tiga tahun lamanya.

Bagaimana implementasi di Perusahaan?

Setelah membiasakan Shalat Shubuh berjamaah, akhirnya shalat itu kami terapkan untuk seluruh shalat fardu. Di kantor-kantor Pandu Logistics, tiap terdenganr adzan, para karyawn dan pimpinan menuju mushalla atau masjid untuk shalat berjamaah. Kalau kami sedang metting, maka kami break dulu. Bahkan saat kami sedang ada pertemuan bisnis dengan mitra dari liar negeri sekalipun, kami langsubg break shalat, dan mereka (mitra asing) bias menerima hal tersebut. Mereka malah sangat respek ketika kami break utnuk shalat berjamaah.

Kami menjalankan shalat Shubuh berjamaah bagian dari program metting. Pernah, misalmnya saat metting di Kalimantan, kami menyewa kapal khusus yang mengantar kami ke sebuah masjid untuk shlat shubuh berjamaah. Kini kantor-kantor kami yang baru, ikonnya adalah masjid/mushalla dan di bangun di depan kantor.

Ketika dinas maupun ke luar kota atau ke luar negeri pun, saya dan rombangan selalu menjaga shalat Shubuh berjamaah. Saat pertama datang yang pertama saya Tanya adalah letak masjid dan meminta tour leader untuk mengantar kami ke Masjid. Saya tawari tips khusus dan biasanya mereka bersedia. Ini saya lakukan di manapun termasuk Spanyol, China, Australia, India maupun Negara-negar Asia Tenggara seperti singapura, Malaysia, dan Thailand

Dampak apa bagi Perusahaan?

Melahirkan ukhuwah dan suasana kerja ysn kondudif. Dalam kehidupan pribadi, shalat fardu berjamaah memberikan keberkahan luar biasa. Saya selalu merasakan ketenangan batin, berbagai persoalan selalu ada jalan keluarnya, dan saya sering mendapat rezeki yang tidak terduga. Ada saja rezeki itu. Anak-anak dan keluarga juga saya libatkan dan tentu mereka juga paling utama di mata saya.