Kombinasikan Dakwah dan Bisnis

Jum`at, 9 Januari 2009 14:11:26




(Rabu, 6 Januari 2009)
SEDIKIT pengusaha yang memadukan dakwah dengan bisnis. Salah satunya
adalah DR HM Bhakty Kasry. Hasilnya, PT Pandu Siwi Sentosa (PSS) mampu
bertahan hingga usia ke-17 tahun.

Hebatnya, Bhakty juga berhasil membawa PSS sebagai perusahaan logistik
atau jasa kurir lokal terbaik di Indonesia. Belasan, bahkan puluhan
company besar lokal dan asing semisalnya, United Tractor mempercayakan
urusan pengiriman kepada PSS.
Keberhasilan ayah tiga anak ini membawa PSS tak lepas dari
kecerdasannya membaca peluang bisnis. "Kita fokus sebagai pemain
domestik, berat bagi kita bermain di level global mengingat bisnis ini
padat karya, modal, dan networking," ungkapnya saat ditemui SINDO di
ruang kerjanya.
Karier cemerlang Bhakty diawali dari perusahan logistik asing, DHL.
Pada 1982, dia diterima menjadi Sales Representative DHL. "Small is
beautiful," katanya dalam hati. Tak heran, Bhakty menerima pekerjaan
itu dengan lapang hati. Etos kerja keras pun diperlihatkan. Tak lama
berselang, beragam jabatan dipercayakan perusahaan kepada dirinya.
Mulai dari manager sales hingga manajer pemasaran nasional.
Setelah 11 tahun mengabdi di DHL, akhirnya anak Muhammad Kasry dan
Siti Aminah ini memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri. Berbagai
alasan dikemukakan kepada istri tercinta, Ellin Susemsiati. Sang
istrinya pun setuju.
"Alasan utama, saya ingin menjadi lebih berguna lagi bagi banyak
orang. Caranya cuma satu, mendirikan perusahaan sendiri," ungkapnya.
Bhakty merasa dirinya mampu mengelola perusahaan karena sudah malang
melintang di dunia logistik bersama DHL.
Pada 1992, dia pun mulai merintis usahanya di ruko pinjaman yang
terletak di Jln Boulevard, Kelapa Gading, Jakarta Utara dengan membawa
bendera PT Pandu Siwi Sentosa. Modalnya saat itu hanya 10 orang
karyawan plus sebuah mobil boks pengantar barang ke bandara atau
pelabuhan. Sadar usaha ini membutuhkan jaringan yang luas, mulailah
Bhakty menjalin komunikasi dengan rekan-rekannya di daerah. Ada yang
tak acuh, tapi banyak yang menanggapinya positif.
Bermodal kepercayaan rekan-rekannya, dengan penampilan menyakinkan
seolah-olah punya perusahaan bonafid, pria ramah ini mendatangi
sejumlah customer besar. Banyak yang tertarik menjadi klien.
"Seolah-olah punya perusahaan besar, padahal jaringan saja minta
tolong teman-teman di daerah," katanya tertawa.
Kegigihan Bhakty mendekati calon customer diakui Deputy General
Manager Part Departement PT Hexindo Adiperkasa Tbk, Adi Santoso. Dia
mengaku, sebelumnya menyangsikan kemampuan PSS melayani Hexindo.
Apalagi, perusahaan ini telah dilayani oleh perusahaan logistik
ternama. Namun, keraguan itu sirna setelah Bhakty melakukan personal
approach 1–2 bulan.
"Saya ingat ketika dia datang untuk ketiga kalinya dan bertepatan
dengan datangnya direktur di perusahaan kami. Dia pun harus rela
menunggu dari pukul 09.00 sampai 12.00 WIB," kenangnya. Setelah
bertemu, lanjut Adi, wajah Bhakty terlihat sumringah.
Pada kesempatan itu, Bhakty menyampaikan proposal kerja samanya dengan
Hexindo. Melihat presentasinya, nilai Adi, PSS memberikan
komitmen-komitmen yang bagus dan prospektif sehingga pihaknya tertarik
teken kontrak dengan Bhakty.
Pengalaman 11 tahun tidak menjamin PSS tumbuh lancar. Pada 1994,
mereka hampir bangkrut. Koleganya mengundurkan diri, padahal PSS butuh
suntikan modal. Kondisi tersebut jelas membuat Bhakty terpukul.
Mendapat cobaan, dia meminta pertolongan kedua orangtuanya agar
diberikan doa mampu menghadapi musibah ini.
Kepada istrinya, bahkan dia meminta keikhlasannya supaya mau menjual
mas kawin dan mobil sebagai tambahan modal. Rumah dan tanah juga ikut
dijadikan jaminan untuk mendapatkan dana segar bagi PSS. Bhakty juga
yakin, krisis dapat dilalui dengan izin Allah SWT.
Perusahaan akhirnya berhasil diselamatkan. Usai krisis, pria yang
selalu mengupayakan salat subuh jamaah ini melakukan berbagai
pembenahan. Mulai dari perbaikan jaringan, sistim, administrasi,
layanan kepada customer, hingga melakukan pelatihan bagi sumber daya
manusia PSS. Di tengah lelahnya mengurus perusahaan, Bhakty dan istri
tidak pernah melupakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan di malam
hari.
Setelah tujuh tahun mempertahankan PSS, hasil positif mulai mendekati
Bhakty. Saat krisis moneter dan ekonomi melanda pada 1998, PSS malah
mendapat banyak customer. "Kerja sama dengan sejumlah perusahaan besar
diteken. Saya merasa mendapat bimbingan dari Allah sehingga di masa
krisis malah kami berkembang pesat," katanya haru.
Kesuksesan Bhakty membawa PSS terasa sampai sekarang. Perusahaan ini
mampu memiliki 122 cabang yang tersebar dari Sabang sampai Meurauke.
Dia juga berhasil menjadi sandaran hidup tak kurang dari dua ribu
keluarga. "Di Jakarta ada 800 karyawan, kalau di seluruh Indonesia
lebih dari 2.000 karyawan," tandasnya. PSS juga mampu menorehkan
pertumbuhan 30–40%.
Lalu timbul pertanyaan, dari mana kesuksesan Bhakty berasal hingga dia
mampu tumbuh di antara perusahaan-perusahaan logistik bermodal kuat?
Bhakty hanya menjawab singkat, ini adalah hasil koloborasi antara
dakwah dengan bisnis.
"Kerja keras, pengalaman di bidang yang sama, doa restu orangtua,
berbagi dengan karyawan, (terpenting) dekat dengan Allah SWT, memenuhi
hak-hak orang, hak karyawan, , hak yang punya jasa, suka berbagi rasa
dengan lingkungan. Jangan lupa bayar zakat, saya kombinasikan itu
semua untuk keberhasilan," pungkasnya. (m iqbal)
Menjaga Kinerja dan Loyalitas Karyawan

SALAH satu kunci sukses Bhakty Kasry adalah berbagi dengan para
karyawannya. Caranya perlu ditiru pengusaha lain, yakni dengan
memberangkatkan haji 15 karyawan berprestasi setiap tahunnya. Program
tahunan ini digelar oleh anak usahanya yang bergerak di bidang travel
haji dan umrah, PT Pandu As-Shafa.
"Kita pilih yang berprestasi dengan harapan tercipta iklim kompetisi
kerja yang sehat di antara karyawan," sebut Bhakty. Bagi dia, karyawan
adalah aset perusahaan yang mesti dijaga dan dibina. Tidak hanya dalam
soal pekerjaan, tapi juga ibadahnya.
Terkait karyawan, dia ingat betul pesan Almarhum ayahanya, Muhammad
Kasry. "Ingat, karyawanmu adalah bagian dari hidupmu," ucap Bhakty
menirukan petuah ayahnya.
Syarat karyawan yang ingin naik haji pun tidak terlalu memberatkan.
Cukup telah bekerja lebih dari dua tahun, berkelakuan baik yang
ditunjukkan dengan aktivitas beribadah sehar-hari, serta punya
dedikasi tinggi terhadap perusahaan. Selain karyawan, keluarga,
teman-teman, tetangga, dan orang-orang di lingkungannya juga
diberangkatkan secara gratis.
Selain haji gratis, PSS juga memberikan kredit murah kepemilikan motor
dan rumah. Manajemen dengan ikhlas membayar uang muka rumah bagi
karyawan yang sudah mengabdi belasan tahun.
       Melihat besarnya perusahaan otomatis Bhakty pun sibuk. Namun, dia
tetap menjadikan keluarga sebagai nomor satu. "Saya ini family man.
Keluarga adalah nomor satu," tegasnya. Nah, untuk memperkuat tali
silaturahmi dengan keluarga pria yang lahir di Medan ini acap kali
menggelar kegiatan ibadah bersama keluarga. Contohnya, setiap ahad
pagi ada acara ibadah dengan keluarga besarnya.
Ketika disinggung tentang karier anak-anaknya? Dia menjawab, "Saya
berharap mereka gantikan saya, tapi lihat bakat mereka masing-masing.
Mereka punya bakat dan minat yang sama dengan saya, ya monggo." Satu
hal yang ditanamkan Bhakty kepada anak-anaknya adalah mereka mesti
profesional dan mau menjadikan perusahaan bermanfaat bagi banyak
orang, bagi banyak keluarga.
Ada satu hal yang menurut Bhakty belum dapat diwujudkannya secara
penuh. Yakni, menjadikan PSS sebagai perusahaan bernuansa madani,
kompetitif, dan go international. "Saya sedang mencari patner yang
bagus untuk itu. Saya juga ingin punya pesawat untuk armada sendiri,
sehingga menjadi raja di negeri sendiri. Untuk berbicara di level
global, perlu patner. Sedangkan di domestik kita perlu infrastruktur
kuat," katanya mengakhiri pembicaraan dengan SINDO di Gedung Pusat
PSS, Jl Raya Bekasi Timur KM 18 No 30, Klender, Jakarta Timur. (m
iqbal)