Perlunya Ketaqwaan dalam Mengelola Harta

Jum`at, 9 Januari 2009 14:06:56

Majalah al Iman

DR. H.M. Bhakty Kasry adalah sosok pengusaha sukses yang sangat dekat dengan orang shaleh dan para ulama. Kesuksesannya yang diraihnya kini, berkat kerja kerasnya yang ia mulai dengan menjadi seorang sales. Ketua MPR-RI-DR M Hidayat Nur Wahid MA-menyebut dirinya sebagai sosok anak bangsa yang berpotensi. Lewat niat yang benar, kerja keras, dan doa, kesuksesan telah diraihnya. Keshalehan individu dan social telah mengantarkannya menerapkan manajemen perusahaanya bernuansa Islami. Hasilnya keberkahaan selalu melingkupi perusahaan yang dipimpinya itu. “harta yang paling berharga adalah amal shalih. Karena itu, kita harus sebanyak mungkinmempergunakan harta yang kita dapatkan untuk membantu sesame,” begitu kata suami dari Ellin Susemsiati ini saat diwawancari Majalah Al-Iman. Pda ruang kantornya yang asri kami berbincang siang itu. Berikut petikanya.

Apa tujuan utama Bapak dalam membuka bisnis yang sekarang boleh dibilang sukses saat ini ?
Ya, Saya kita alas an secara umum karena masalah kehidupan dan kepentingan rumah tangga. Sangatlah penting bagi seorang kepala rumah tangga untuk bias menghidupi keluarganya. Sebagai seorang muslim, kita kan diwajibkan mencari nafkah. Karena mencari nafkah adalah amal yang sangat mulia, apalagi jika diniatkan ibadah. Lebih dari itu, seorang muslim itu diperintahkan untuk menjadi orang yang ‘mampu’ bahkan kalau bias kaya. Harta kekayaan yang diperolehnya tersebut harus didaptkan dengan cara-cara yang baik sesuai dengan syariat Islam. Semuanya itu tentu memerlukan proses yang panjang. Tidak semua orang bias berjalan mulus dalam menapaki kehidupan keluarga dunia yang amat terjal ini. Sebagai seorang manusia biasa, tentunyabanyak godaan yang datang menghampiri saya. Tidak terkecuali dalam proses pertumbuhan bisnis yang saya jalankan ini, banyk ,lika-likunya. Saya kira pada semua perusahaan pernah mengalami hal yang sama. Terkadang ada rtik-trik dan hal-hal yang kurang menyenangkan dalam perjalanan bisnis yang kita geluti. Akan tetapi, lambat laut saya tahu dan menyadari bahwa cara-cara demikian adalah keliru.
Pada perkembanganya bisnis yang saya jalankan ini arahnya mengacu kepada aturan syari’at Islam. Hal ini juga memerlukan perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan. Tidak semulis yang kita kira. Namun, sekarang saya sudah ‘keukeuh’, supaya bisnis yang saya jalankan ini bias berjalan tertib, baik, dan benar-benar menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Apalagi usaha saya ini kan bergerak dibidang jasa. Maka komitmen dan kepercayaan harus diutamakan. Dalam segala hal untuk melayani pelanggan.
Setelah lima belas tahun berjalan, banyak pahit getir yang sudah saya rasakan. Dari riak-riak kecil hingga gelombang yang sangat dahsyat. Kita selalu berusaha dekat kepadaAllah SWT dalam segala kondisi, sehingga banyak kemudahan yang Allah berikan kepada perusahaan ini. Dengan begitu secara perlahan tetapi pasti, Allah memberikan pertolongannya kepada kita. Lambat laun perusahaan ini berkembang semakin besar. Kemudian lahirlah anak-anak perusahaan hingga menuai penghargaan-penghargaan yang sangat membanggakan kami. Dari semua pengalaman ini saya menyimpulkan bahwa dalam memimpin sebuah perusahaan itu diperlukan sebuah ketaqwaan. Begitu juga dalam mengelola harta. Sebab, semua yang kita lakukan akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Untuk itulah saya berusaha membina keluarga dan seluruh karyawan agar menjadi hamba-hamba yang bertaqwa. Insa Allah

Apakah pernah terjadi kalau harta yang Bapak miliki menjadi ‘fitnah’ bagi kehidupan Bapak sendiri?

Saya kira fitnah itu akan datang, kalau kita tidak mengetahui syarat-syarat dalam mengelola harta. Harta itu kan titipan Allah, maka dari harta yang kita miliki itu harus dikeluarkan zakatnya. Kalau kita semakin dekat kepada Allah, maka kita akan mendapatkan bimbingan dalm menelola harta yang kita punya. Sebelum saya mengetahui Islam lebih mendalam, seringkali harta yang kikta miliki itu malah membuat kita semakin jauh dari Allah. Pada saat menggelar rapat tahunan, dari tahun pertama samapi tahun ke empat, selalu identik dengan hadiah-hadiah plus hiburan konser musik. Kalau hadiah mungkin tidak terlalu masalah, sebagai penghargaan kepada karyawan yang berprestasi. Setelah pemberian hadiah tersebut, kami langsung larut dalam hentakan musik yang membuat kami bergoyang (joget). Para penyanyinya saya panggilkan artis-artis yang cukup terkenal. Saya pribadi juga ikutan jogger bersama karyawan lainnya. Astahfirullah, ampun ya Allah. Selanjutnya saya mengetahui kalau hal-hal tersebut merupakan maksiat. Uang yang kita peroleh dari hasil kerjakeras, larinya kepada hal yang kurang bermanfaat. Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan kepada para ulama yang kemudian membimbing hidup saya menjadi lebih baik. Cara-cara yang saya gelar sekarang untuk baik. Acara-acarayang saya gelar sekarang untuk para karyawan, lebih kepada pembinaan ketaqwaan, seperti qiyamu lail dan pengajian rutin. Alhamdulillah, perusahaan lebih berkah.

Pada perkembangannya Bapak banyak membantu kalangan yang kurang mampu. Apakah hal tesebut tidak merugikan jalan perusahaan yang Bapak pimpin ?

Nah, inilah yang saya rasakan sebagai kebesaran Allah. Saya terkagum-kagum dengan masalah ini. Saya pernah Tanya sama istri sampai tiga kali. “Bu (ibu Ellin), selama menikah sama aku setelah kurang lebih 23 tahun, apakah pernah harta Ibu berkurang karena Aku banyak bersedekah kepada orang yang kurang mampu?” “tidak, bahkan nambah terus Pak! “kata istri saya. Hal ini memang terbukti, sampai detik ini asset saya terus bertambah. Dalam proses selanjutnya, istri saya malah mendukung setiap kegiatan social yang saya lakukan. Karena ia merasa yakin, bahwa Allah akan membalas segala amal kebaikan yang kita lakukan.
Saya ingat, dalam Al Qur’an itu ada sebuah kisah tentang seoarang yang shalih bernama Luqman yang memberikan nasihat kepada anaknya. Pada suatu ketika anaknya bertanya kepada Luqman. “Ya Ayah, selama Aku hidup di dunia, hal apa yang paling utama yang harus dipegang teguh.” “Nilai-nilai agama wahai anakku. Karena dengan nilai-nilai itu jalan hidup kita akan lurus, “jawab Luqman. “kemudian apa lagi wahai Ayah, “Tanya si anak lanjut. Luqman ke udian menjelaskan tentang konsep harta. Bahwa seorang muslim harus mencari nafkah/harta dengan sebaik-baiknya. Karena dengan harta itu, kita bias berbuat banyak. Bias pergi haji, bersedekah atau membangun masjid. “apa lagi ya Ayah, “Tanya sang anak penasaran. Luqman memberi penjelasan lagi, bahwa kita harus malu dalam hidup ini. Kisah ini sangat bagus untuk kita renungi. Pada kisah lainnya, pernah ratu Bilqis bertanya tentang kekayaan yang sangat luar biasa yang dimiliki Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman menjawab bahwa semua kekayaan ini adalh anugerah dari Allah. Intinya, kita harus berikhtiar dengan sekeras-kerasnya jangan lupa, kita harus berbagai dengan mereka yang kurang mampu.

Sebenarnya bagaimana kedudukan harta itu dalam pandangan bapak ?

Harta ini adalah anugerah dari Allah sekaligus titipan. Dari sisi lain, harta yang kita miliki itu bias menjadi cobaan/fitnah. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Yang harus kita ingat adalah bahwa harta yang kita miliki itu akan dipetanggungjawabkan di hadapan Allah. Dari mana didapatkanya? Bagaimana caranya? Dan untuk apa penggunanya? Kita harus benar-benar memanfaatkan harta tersebut dengan sebaik-baiknya. Saya punya prinsip, bahwa sebaik-baik umat adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Untuk itulah, berkali-kali saya berdoa di Mekkah, agar mendapatkan bimbingan dari Allah dalam mempergunakan harta yang saya miliki ini. Karena pada hakikatnya harta adalah amanah.

Kalau kita berbicara masalah kemiskinan, apakah hal ini disebabkan karena orang yang kaya tidak mau meringankan nasib orang yang kurang mampu?

Masalah miskin dan kaya merupakan ketentuan dari Allah. Tetapi, kita semua diperintahkan untuk bekerja keras. Saya piker, kalau saja semua orang kaya di Indonesia ini mau membantu yang kurang mampu dengan membayar zakat, paling tidak bias membantu sebagian besar orang yang kurang mampu. Masalahnya, belum semua orang mau peduli terhadap sesame lewat membayar zakat itu. Sebagian besar orang-orang kaya itu, masih hituang-hitungan dalam membayar zakat. Hal ini dimungkinkan karena hati mereka yang masih keras untuk membantu orang yang kurang mampu.

Kalau meurut Bapak, sebenarnya harta apa yang paling berharga dalam kehidupan kita selam di dunia ini ?

Harta yang paling berharga tentunya amal shalih. Karena amal shalih inilah yang akan menjadi bekal kita dalam menghadapi hari perhitungan di akhirat kelak. Makanya, kita haris mencari bekal pada kehidupan di dunia ini untuk menghadapi kampong akhirat. Harta yang kita dapatkan ini, harus kita gunakan untuk sebanyak mungkin menolong orang yang membutuhkan bantuan. Dari situlah kita mendapatkan amal shalih untuk bekal di akhirat. Semoga kita semua bias mendapatkan kebahagian dunia akhirat. Amin.