Johari Zein

Rabu, 31 Desember 2008 14:47:25


Ketua Umum Asperindo
Chief Executive Officer PT Jalur Nugraha Ekakurir (JNE)

 

Mahir Menjaring Customer

Saat itu, di Indonesia hanya ada dua perusahaan yang menangani jasa kurir secara cepat dan aman, yaitu DHL dan TNT. Sekitar tahun 1980-an, saya sudah menjadi karyawan di TNT.

Tak lama bekerja di TNT, saya ditugaskan untuk terjun ke cabang-cabang yang ada di daerah. Saat itulah, saya mulai sering mendengar nama HM Bhakty Kasry, sekitar tahun 1984, sebagai karyawan di DHL yang juga mengurusi cabang-cabang di daerah. 

Selama itu pula saya tidak pernah secara langsung bertemu muka dengan Bhakty, namun saya merasakan bahwa ia adalah pesaing yang tangguh di lapangan. Saya respect dengan kinerjanya, karena ia bisa mengkoordinir cabang-cabang di bawah yang ada di seluruh Indonesia. Dan saya menjadi lawannya saat itu. Ibaratnya, saat itu sedang berkecamuk silent war di antara kami.

Saya mulai bertemu dengan Bhakty, ketika saya aktif di Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspres Indonesia (Asperindo). Sejak di lapangan hingga saya memegang TIKI JNE, saya tetap mendengar nama besar Bhakty sebagai pemain handal yang bergerak di jasa kurir, terutama kelihaiannya dalam mencari customer di lapangan.

Saya akui, Bhakty adalah sosok yang jago dalam meyakinkan customernya. Sebagai pemain baru, ia mampu merangkul customer dalam waktu yang sangat singkat. Ilmu yang pernah ia dalami di DHL menjadi senjata andalan Bhakty mengembangkan usahanya.

Sampai hari ini, saya tetap respect terhadap apa yang dilakukan Bhakty. Di asosiasi ia juga pernah aktif sebagai pengurus, saat itu ketuanya masih dipegang oleh Rudi Pesik, orang DHL juga. Frekuensi pertemuan saya dengan Bhakty tidak terlalu sering, mungkin saat rapat di asosiasi saja. Tapi saya bisa melihat geliat perusahaannya yang juga berada di bawah Asperindo, tergolong perusahaan yang berkembang pesat.

Saya dengan Bhakty adalah pesaing sekaligus teman. Kami berasal dari daerah yang sama, Medan. Kesamaan rumpun ini memperkuat hubungan emosional di antara kami, apalagi bidang yang digarap juga sama. Kesamaan ini menuntut kami untuk mampu berbuat yang terbaik, sehingga tercipta persaingan yang sehat dan tidak menghalalkan segala cara.

Bhakty adalah entrepreneur yang agamis. Keteguhan agamanya menjadi salah satu faktor yang mampu mengangkat perusahaannya ke arah perkembangan yang cukup pesat. Alhamdulillah, jalan yang diambil oleh Bhakty dalam memimpin perusahaan, juga sama dengan apa yang saya ambil. Seperti halnya perhatian Bhakty terhadap agama yang cukup tinggi,  insya-Allah, kami juga punya visi yang sama, misalnya masalah zakat, kepekaan sosial, dan syiar agama, juga perhatian di perusahaan ini. Saya yakin Bhakty di atas kami untuk masalah ini.

Sebagai panglima perang di perusahaannya, saya melihat lawan yang satu ini memiliki karakater khusus yang membedakannya dengan yang lain. Kekuatan spiritualnya cukup menonjol, karenanya ketika saya bertemu dengan Bhakty, nampaknya perasaan ini nyambung terus, mungkin karena kami berada di bawah naungan yang sama; satu imam, akidah dan cara pandang yang selalu mengedepankan nuansa spiritualitas.

Selain itu, Bhakty termasuk salah satu pemain di bidang jasa kurir yang seringkali melahirkan ide-ide cemerlang. Seperti ketika ia menggagas penyamaan tarif secara sehat. Dalam obrolan santai dengan saya, Bhakty akhirnya berkomitmen untuk menyesuaikan tarif yang benar dan menghapus istilah personal discount. Sebab, adanya personal discount yang tidak tercatat di invoice, hal ini akan menyebabkan peluang lahirnya korupsi sangat tinggi. Saya dengan Bhakty memandang ini sebagai persaingan yang tak sehat yang harus diluruskan.

Setelah itu saya bersama Bhakty, membuat pengumuman kesepakatan untuk tidak bermain-main dengan tarif yang tidak sehat. Kami pun mengumumkan komitmen itu, ada beberapa perusahaan mengikuti langkah kami. Akhirnya lahirlah satu kesepakatan bersama untuk terus berada dalam jalur persaingan sehat, yang baru-baru ini saya tanda tangani saat ulang tahun Asperindo. Bahkan saat itu disaksikan oleh Dirjen Postel, Basuki. Bahkan Basuki berharap jika ada perusahaan yang meminta izin membuka industri, maka ia harus menadatangani kesepakatan ini sebagai komitmen awal. Demikian kiprah Bhakty sebagai pencetus ide brilian itu. 

Bhakty tergolong pebisnis yang sangat peka, ia punya instink yang tajam. Saya pribadi terkagum-kagum dengan instinknya. Kalau tidak menyadari, seseorang akan menvonisnya sebagai pebisnis yang menjalankan usahanya dengan cara one man show. Sebenanrya saya bisa memahami itu dan fine saja. Karena dia tahu duduk persoalannya dan banyak orang tidak tahu apa yang ia ketahui, makanya tak heran jika terkadang Bhakty sedikit memaksa karyawannya. Saya melihat, tajamnya instink yang ia miliki karena kedekatannya dengan Allah. Ketajaman instinknya seringkali disalahpahami orang, bahkan menganggapnya otoriter. Persepsi negatif itu diperparah oleh pemahaman umum bahwa sebagai orang Medan, Bhakty dinilai cukup keras karakternya.

Kesuksesan Bhakty menjalankan usaha kurirnya adalah wujud profesionalitas kerja yang diterapkan, juga tak lepas dari nilia-nilai spiritual yang melandasi kerjanya selama ini. Menurut saya, apa yang dilakukannya menjadi berkah bagi usaha yang dijalaninya.

Harapan saya kepada Bhakty, sebagai pemimpin ia harus menjadi contoh yang baik kepada karyawannya. Bhakty juga harus bisa menciptakan etos kerja yang bisa lebih soft dan dibalance-kan dengan banyak memberikan otoritas kepada stafnya sehingga ini akan bisa menyeimbangkan gayanya yang sepertinya otoriter.

Bhakty adalah sosok pengusaha yang menjalankan dua kepentingan sekaligus, yaitu kepentingan dunia dan akhirat. Ia telah menunjukkan, bahwa seharusnya pengusaha muslim tidak hanya berkutat pada urusan duniawi belaka tapi juga meningkatkan investasi akhiratnya. Saya melihat, Bhakty telah menjalankan dua hubungan, yaikni habluminannas dan habuminallah dengan baik. Semoga keluarga besarnya diberikan kekuatan untuk menjalankan amanah ini. Amien.

 

Jakarta, 9 Juni 2006