Moh Deddy Haswidi

Rabu, 31 Desember 2008 14:38:58


Pimpinan Cabang PT Pandu Siwi Sentosa Bandung



Pemimpin yang Keras, Tegas dan Cerdas

Setelah shalat Isya', saya diperkenalkan kepada HM Bhakty Kasry oleh manajemen PSS Cabang Bandung di rumahnya pada hari Sabtu, 4 Maret 2000. Pertemuan sepintas itu membuat saya lebih yakin bahwa perusahaannya cukup prospek. Sejak itulah saya mulai bergabung dengan PT. Pandu Siwi Sentosa (PSS). 

Ketika itu, bisnis kurir di Indonesia masih belum terkelola dengan baik, begitu juga di PSS. Namun dengan semangat tinggi, Pak Haji (begitu saya memanggilnya) selalu berupaya untuk memperbaiki diri guna  menyongsong masa depan yang lebih baik, dan itu senantiasa beliau hembuskan pada banyak kesempatan. 

Suasana kerja di PSS secara keseluruhan sangat kondusif dibanding perusahaan lain. Di PSS nuansa agamis tercipta begitu kental dan itu cukup mewarnai pola kerja karyawan. Dari sinilah jalinan ukhuwah islamiyah di antara karyawan terjalin secara dinamis layaknya keluarga, dengan tetap memperhatikan tuntutan berdisiplin tinggi dan kerapihan kerja.

Pak Haji adalah salah seorang dari sedikit pemilik perusahaan yang begitu peduli terhadap kesejahteraan karyawannya, semua karyawan yang telah memenuhi syarat, dibantu dengan fasilitas kepemilikan kendaraan, perumahan, bea siswa bagi putra-putrinya, bahkan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji atau umrah.

Awal saya bergabung dengan Pak Haji, beliau kerap melontarkan “Take it, or leave it”. Saya pikir saat itu Pak Haji sedang memasuki fase “merapikan” perusahaannya. Melihat kepercayaan yang demikian tinggi diberikan oleh para pelanggannya, beliau menghendaki agar jajaran karyawannya memberikan kualitas kerja terbaik untuk perusahaan. Alhasil, perusahaan ini berkembang sangat pesat.

Ketika beliau berdialog dengan saya, dia selalu memulai dengan mengupas persoalan keagamaan. Yang menarik, Pak Haji selalu memposisikan diri layaknya seorang abang ketika berbicara kepada adiknya. Menurut saya, ia sosok  yang supel dan familiar, lebih dari itu, beliau selalu memotivasi saya untuk terus berpegang teguh kepada ajaran agama dan mewujudkannya dalam tindakan nyata sehari-hari.

Hampir dalam setiap kegiatan perayaan yang diadakan oleh perusahaan maupun yang bersifat pribadi (semisal ulang tahun), Pak Haji selalu mengundang masyarakat sekitar untuk menerima sedekah. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti ketika dalam perjalanan memakai kendaraan, beliau selalu memberi contoh dan memperingatkan kami semua, bila bertemu dengan pengemis maupun pengamen, sebelum mereka meminta, beliau menyuruh kita untuk lebih dahulu membuka kaca kendaraan dan langsung memberikan uang (bukan uang receh, tapi minimal seribu rupiah).

Sesibuk apapun, beliau selalu menyempatkan diri untuk shalat dhuha. Beliau juga selalu shalat subuh berjamaah bersama karyawannya di masjid dekat rumahnya, dilanjutkan dengan tadarus al-Qur'an. Tak hanya itu, beliau juga mengadakan pengajian di kantor setiap hari Sabtu.

Dalam memimpin perusahaannya, beliau termasuk salah seorang tipe pemimpin yang keras, tegas, dan cerdas, tapi tetap dalam koridor sikap yang islami, termasuk ketika menjalankan manajemen perusahaan. Lebih dari itu, beliau selalu konsisten dengan apa yang diucapkannya. 

 

Ada satu peristiwa yang menggelitik di hati,  ketika saya akan menunaikan ibadah haji, hampir seluruh karyawan PSS tahu kelemahan saya, takut pada ketinggian, apalagi naik pesawat terbang, berbagai macam terapi telah saya jalani untuk menghilangkan perasaan ini, tapi hasilnya kurang menggembirakan. Sejenak saya berpikir, bagaimana nantinya saya melaksanakan ibadah haji?

 

Kegalauan saya rupanya terbaca oleh Pak Haji, setiap ada pertemuan resmi maupun dalam rangka wisata, beliau selalu mengajak saya untuk naik pesawat, tapi ajakan itu selalu saya tampik dengan halus (bahwa saya belum siap naik pesawat). Perasaan takut ini mungkin dipandang oleh Pak Haji sebagai masalah besar buat saya yang harus dihilangkan, maka dengan berbagai cara beliau berusaha untuk menyembuhkan saya, salah satunya dengan mengajak saya ikut menghadiri kegiatan meeting regional wilayah Kalimantan pada tanggal 16 Agustus 2004 di Balikpapan.

 

Awalnya saya berani, tetapi makin mendekati waktunya untuk  terbang (Minggu, tanggal 15 Agustus 2004, pukul 7 pagi), malam sebelumnya, perasaan takut ini menyergap kembali, sehingga daripada terjadi sesuatu, saya putuskan untuk batal pergi. Hal ini memicu kemarahan besar Pak Haji, saat saya pulang kembali ke Bandung, di daerah Puncak, sekitar pukul 10 pagi, beliau menelepon saya, menyuruh saya kembali ke bandara untuk ikut rombongannya dengan pesawat berikutnya.

 

Lucunya, bukannya menambah keberanian saya, malah sebaliknya, saya makin tidak berani. Saya tahu, hal ini sangat mengecewakan beliau. Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, dengan sangat telaten beliau selalu memotivasi saya untuk berani naik pesawat terbang, dikaitkan dengan perjalanan ibadah haji, sebab ibadah haji mustahil memakai jalan darat.

 

Ketelatenan beliau memotivasi saya membuahkan hasil, tanggal 2 September 2005 saya berhasil mengalahkan ketakutan tersebut, saya terbang ke Batam bersama beliau, dan selanjutnya menuju Singapura untuk mengunjungi putrinya yang menuntut ilmu di sana. Sepanjang perjalanan di pesawat, baik pada saat pergi, maupun pulangnya, saya merasa semua anggota rombongan memberi dukungan bagi kesembuhan saya, terlebih Pak Haji, dengan candanya yang khas yang sesekali pecah di pesawat mencairkan ketegangan dan ketakutan saya.

 

Saya punya pengalaman, pada saat saya mendampingi beliau menemui staf “Daarut Tauhid”, saat bertukar kartu nama, persediaan kartu nama saya di dompet kebetulan habis, mengetahui hal itu beliau menegur saya dengan keras, sama halnya pada saat kejadian saya memberi sedekah kepada pengemis dengan tangan kiri, beliau langsung terperanjat dan menegur saya.

 

Semoga Pak Haji dan PSS yang dikelolanya menjadi lebih baik dan berkembang terus. Semoga Allah Swt memberikan kekuatan kepada kita dalam menjalankan tugas ibadah sehari-hari. Amien.   

 

 

                                                                                                Bandung, 9 Mei 2006