Habib Muhdor

Rabu, 31 Desember 2008 14:38:28


Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fattah, Jember

 

Berjuang di Jalan Allah

Saya memanggil HM Bhakty Kasry dengan sebutan ayahanda. Di antara kami tercipta sikap kekeluargaan yang akrab. Hubungan kami ibarat keluarga sendiri. Tepatnya, 2 tahun yang lalu, Allah mempertemukan saya dengan ayahanda pada acara pengajian Tabligh Akbar oleh Ust Muhammad Arifin Ilham yang diadakan di Surabaya. Sejak itulah, hubungan kami terjalin akrab hingga sekarang.

Saat pertama saya bertemu beliau, saya merasakan ada magnet mengalir pada raut wajahnya. Pancaran wajahnya terlihat berseri, sebuah pancaran sujud yang khusyu’. Dia adalah sosok ahli ibadah yang konsisten.

Sebagai seorang pengusaha sukses, ayahanda sangat memperhatikan  prinsip-prinsip keislaman dalam berbisnis. Dari sinilah saya melihat ada keberkahan dalam bisnis yang beliau kerjakan. Harta yang beliau dapatkan dari usahanya banyak digunakan di jalan Allah, fi sabilillah.

Demikian juga manajemen yang diterapkan, nilai-nilai islami cukup mewarnai penerapan sistem manajemen di perusahaannya. Seperti ketika seluruh karyawatinya diwajibkan memakai busana muslimah dengan benar, yakni dengan memakai jilbab. Begitu juga bagi karyawan, semuanya di larang merokok.

Tak hanya itu, dalam masalah ibadah shalat, perusahaan PT Pandu Siwi Sentosa juga sangat memperhatikannya. Misalnya, ketika ada panggilan azan shalat lima waktu, maka karyawannya dianjurkan untuk meninggalkan pekerjaan dan menjalankan shalat secara berjamaah.

Ayahanda adalah sosok pemimpin perusahaan yang tegas dan disiplin. Beliau tak segan untuk menegur karyawan yang tidak disiplin. Termasuk juga ketika waktu shalat tiba, jika beliau menemui karyawannya tidak shalat maka ia akan menegurnya.

Beliau adalah sosok pengusaha muslim yang konsisten mempelajari Islam. Hal ini bisa dilihat dari keaktifannya mengikuti beberapa pengajian. Ia seringkali mengikuti acara zikir Ust Arifin Ilham. Selain itu beliau juga dikenal sebagai orang yang dermawan. Beliau banyak memberikan sumbangan kepada anak yatim piatu, pembangunan masjid, pengembangan pesantren dan lain sebagainya.

Saat pengajian, saya melihat ia sangat khusyu’ mengikuti apa yang disampaikan oleh penceramah. Tak hanya itu, beliau selalu menjalankan apa yang telah didengarnya dari ceramah. Beliau juga tidak mau diganggu ketika khusyu’ mendengarkan siraman ruhani.

Ayahanda adalah sosok yang suka bergaul dengan orang-orang saleh. Beliau gemar menjalin hubungan silaturahim dengan para ulama. Karenanya tak heran jika beliau banyak kenal dan akrab dengan para ulama.

Saya melihat kesungguhannya dalam melakukan syiar Islam, keaktifan beliau dalam mendanai kegiatan dakwah menjadi bukti awal kesungguhannya itu. Satu perilaku unik muncul dari kecintaannya kepada Islam, beliau juga membangun sebuah kubah di rumah yang didiaminya. Beliau memahaminya sebagai simbol ruhani atas kecintaannya dengan masjid.

Selain itu, beliau juga kerap memberikan sumbangan yang sifatnya insidentil. Misalnya, seminggu sekali, melalui pimpinan cabang  yang ada di Surabaya, perusahaannya membagi-bagikan rezeki kepada jamaah shalat shubuh di masjid Agung Surabaya.

Pesan saya buat ayahanda, agar beliau terus membina anak buahnya dalam hal ini karyawannya untuk giat beribadah. Sehingga keberkahan selalu menyertai usahanya. Jangan pernah lelah membimbing karyawan untuk dekat kepada Allah, terutama ibadah shalat berjamaah. Semoga Allah selalu memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada keluarga besar ayahanda Bhakty. Amien.

 

Jember, 6 Juni 2006