Sang Panglima Pandu

Selasa, 16 Desember 2008 10:44:35

Pada 1992, adalah babak baru Dr HM Bhakty Kasry. Tahun itu ia  mencoba peruntungan di dunia bisnis kurir. Dengan modal sekitar Rp 50 juta dari hasil mengumpulkan uang gaji selama bekerja di DHL selama 11 tahun, ia beranikan diri membangun kerajaan bisnisnya.
Alhasil, Pandu Siwi Group memiliki empat anak perusahaan yaitu PT Pandu Siwi Sentosa, PT Tritama Bella Transindo, PT Indah Jaya Express, PT Pandu As-Shafwa, dan PT Pandu Elin Sejahtera.

Sukses Bhakty bukan ibarat sulap. Sekali jadi, instan. Mulanya, ia bekerja sebagai salesman di perusahaan jasa kurir PT DHL Indonesia. Berkat kesabaran dan ketekunannya, Bhakty berhasil meraih posisi sebagai Country Sales Manager.
Meski berhasil menjadi manajer, namun dalam diri Bhakty ada keinginan tidak menjadi karyawan terus-menerus. Karena itulah, "Sambil bekerja, saya harus banyak belajar dari perusahaan itu," ungkap penikmat lagu-lagu bernada riang ini.  

Suatu malam, sepulang dari kantor, Bhakty mengungkapkan niatnya untuk mendirikan perusahaan sendiri kepada sang istri, Elin Susemsiati. Dengan modal Rp 50 juta, Bhakty mendirikan perusa¬haan jasa kurir sendiri dengan nama PT Pandu Siwi Sentosa.

Pria yang kerap memakai jam tangan Rolex ini mengakui, pada masa tersebut, modal se¬besar itu  tergo¬long kecil untuk me¬mulai bisnis di jasa kurir. Na¬mun, berbekal tekad dan pengalaman yang dimiliki, Bhakty tak surut langkah menja¬lankan bisnisnya. 
Memang, di awal-awal perjalanan, bis¬nis¬nya sempat terseok-seok. Bahkan pada tahun 1994, rekan bisnisnya mun¬dur. Karyawan tersisa pun tinggal tiga orang. Tapi kondisi itu tak membuat Bhakty su¬¬rut langkah.

Pria yang dikenal dekat dengan ulama seperti HM Arifin Ilham, KH Abdullah Gymnastiar, Tuan Guru Musthafa Umar, Hidayat Nur Wahid, Syekh Ahmad Sudaish dari Saudi Arabia, Prof Dr Amien Rais ini tetap menjalankan roda bis¬nis¬nya meski mobil dan perhiasan istrinya ikut menjadi korban untuk modal usaha¬nya.

Tak hanya kekurangan modal, admini¬s¬trasi dan jaringan perusahaan juga masih lemah. Maklum untuk pengembang¬an bisnis ini ia membutuhkan teknologi dan jaringan yang luas. "Saat itu dengan kemampuan terbatas, jaringan masih belum besar," kenang Bhakty yang saat ini memiliki 2500 pelanggan di Indonesia.

Cita-cita menjadi seorang manajer yang baik di satu perusahaan, tertanam kuat di benak Bhakty kecil. Berjuta rasanya bila ia bisa menjadi leader. Begitu kira-kira angan-angan Bhakty, saat itu. Tapi siapa nyana, mimpi-mimpi itu bakal menjadi kenyataan.

Saat ini, Bhakty memimpin sekitar 1500 karyawan di bawah bendera PT PSS. Kantor pusat  yang berdiri kokoh di jalan Raya Bekasi Timur KM 18, No 30, Klender, Pulogadung, Jakarta Timur, ini menempati tanah seluas 2500 m2 dari total tanah seluas 9000 m2. 

Bhakty lahir di Tebing Tinggi Sumatera Utara. Ayahnya, Mohammad Kasry, asli Medan, bekerja di perkebunan kelapa sawit PTP 6 Sumatera. Sementara ibunya, Siti Aminah, orang Jawa. Tidak heran bila kemudian ia menyebut dirinya, “Saya ini Jadel (Jawa Deli) atau Pujakusuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera), he he  “kata Bhakty yang kali pertama menjejakkan kakinya ke Jakarta pada 1962 ini.  

Diakui Bhakty, gemblengan pendidikan orangtua saat ia kanak-kanak turut memberi andil terhadap proses kesuksesan dirinya. “Saya dididik keras, diajari berani dan jujur. Ayah suka juga menasehati agar selalu jujur. Kalau kau jujur, Insya Allah, kau selamat!” tandas Bhakty yang terbiasa makan bersama keluarga dan anak-anak di restoran, mall pada setiap akhir pekan ini.

Putera keenam dari sepuluh bersaudara ini mengisahkan pengalaman masa kecilnya yang sangat berkesan hingga sekarang. Katanya, saat usia 6 tahun, ia pernah disuruh pulang ke Medan sendiri. “Saya dititipkan ke seorang tentara. Kalau enggak punya uang, disuruh numpang naik truk.  Lumayan, dari Tebing Tinggi ke Medan, jaraknya sekitar 80 km, he he..” kenangnya. 

Selain itu, Bhakty kecil juga hoby main bola. Ia masuk klub Persatuan Sepakbola Kotamadya Tebing Tinggi dan Sekitarnya (PSKTS). “Kita sering ikut kompetisi di Sumatera Utara. Ya, kadang menang, kadang kalah,”kisahnya sembari menerawang masa-masa indahnya. 

Seiring perjalanan usia Bhakty yang menurut penuturannya tidak muda lagi, kesenangan main bola diganti dengan tenis lapangan. Olahraga ini ia lakoni dua kali dalam seminggu. Bahkan ia mendirikan Pandu Siwi Tenis Club. 

Kebiasaan lainnya untuk menjaga kebugaran tubuhnya, -selain check up setahun sekali- setiap pagi Bhakty membiasakan diri mengonsumsi air zamzam. Air dari Makkah itu diakui menyehatkan sekaligus ibadah.

Kerja adalah Ibadah

Kerja adalah ibadah. Itulah lan-dasan bisnis Bhakty Kasry, pemilik dan pendiri PT Pandu Siwi Sentosa. Ia meyakini, hidup adalah ibadah. Karenanya setiap aktivitas yang ia lakukan diniatkan untuk ibadah kepada Allah SWT.

Suasana Islami mewarnai perusa¬ha¬an¬nya. Buku-buku Islam menghiasi meja kerjanya. Bahkan sebagian besar karyawati berjilbab. Setiap bulan Bhakty mengadakan pengajian di kan¬tornya. Untuk keperluan itu ia menda¬tang¬kan para ustadz ke kantor.  Ustadz yang diundang di antaranya Arifin Ilham, Abdullah Gymnastiar, dan Hidayat Nurwahid.

Selain itu juga ada program penga¬jian mingguan untuk para karyawan. Mereka belajar mengaji al-Qur'an. "Saya ingin usaha ini selamat dunia dan akhi¬rat," tuturnya sembari menam¬bah¬kan ia memang ingin memadukan pro¬fe¬sio¬nalisme dalam berbisnis dengan ibadah.

Bhakty dikenal dekat dengan para ulama. Hal ini terlihat dari sederetan foto dirinya dengan para ulama yang terpampang di dinding kantor. Di antaranya Arifin Ilham, KH Abdullah Gymnastiar, KH Mustafa Umar dari Mataram, Hidayat Nurwahid, Syekh Ahmad Sudaish dari Saudi Arabia, dan lainnya.

Mengenai kedekatan dengan para ulama, menurutnya semua itu tak lain untuk memotivasi dirinya dalam beribadah. Sebab, "Makin mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah akan ma¬kin membukakan pintu rezeki untuk kita," ungkapnya. Selain itu, kedekat¬annya dengan para ulama sebagai penyeimbang dalam hidup. "Ulama itu kan penerus Rasul yang bisa menye¬jukkan hati," paparnya. 

Karena itulah setiap rapat tahunan, Bhakty selalu mengundang para ulama untuk memberikan motivasi dengan tausiyahnya. "Saya tak ingin hanya suk¬ses di dunia saja, tapi di akhirat juga."

Sebagai salah satu ungkapan rasa syukurnya, setiap tahun Bhakty mem¬be¬rang¬¬katkan para karyawannya  menu¬naikan ibadah haji. Tak kurang 15 kar¬yawan ia berangkatkan tiap tahun. "Ma¬ju¬nya perusahaan tak lain karena peran para karyawan," terang Bhakty.

Arsip Lainnya