Bhakty Kasry : Berburu shalat subuh berjamaah di Masjid

Selasa, 16 Desember 2008 09:50:00

  
Wednesday, 13 February 2008 13:36

Suatu pagi di bulan Agustus 2002, Muhammad Bhakty Kasri ditegur oleh Pimpinan Majelis Az-Zikra, Ustadz Muhammad Arifin Ilham. ''Ayahanda, Anda sudah terlalu banyak mendapat karunia dari Allah SWT. Apa alasan Ayahanda belum menjalankan shalat subuh berjamaah di masjid?''

Pemilik dan Komisaris Pandu Siwi Sentosa (Pandu Logistics Group) itu mulanya terkejut mendengar teguran yang tanpa tedeng aling-aling itu. ''Tapi saya senang. Sebab, selama ini tak pernah ada ulama yang berani menegur saya dengan cara terus terang seperti itu,'' ujar pengusaha jasa pengiriman yang telah memiliki 150 cabang di seluruh Indonesia itu.

Peristiwa itu terjadi menjelang acara zikir akbar yang digelar di Lombok. ''Saat itu juga saya bersumpah di hadapan Ustadz Arifin Ilham dan Tuan Guru Mustafa Umar, ulama di Lombok, bahwa saya tidak akan meninggalkan shalat subuh berjamaah," tutur lelaki kelahiran Medan, 30 April 1953 itu saat berbincang dengan Republika pekan lalu di Jakarta.

Ustadz Arifin Ilham lalu memberikan kiat khusus agar Bhakty menjalankan shalat subuh berjamaah selama 40 hari berturut-turut di masjid atau mushala. ''Mulanya berat sekali bagi saya untuk melakukan shalat Shubuh berjamaah di masjid. Apalagi sebagai pengusaha, saya sering pulang larut malam dalam keadaan sangat capai. Namun Alhamdulillah, akhirnya saya bisa tiap hari shalat Shubuh berjamaah di masjid. Baik ketika berada di Jakarta maupun ketika pergi ke luar kota,'' ujar lelaki yang pernah bekerja selama 10 tahun di perusahaan kurir kelas dunia, DHL World Wide Courier.

Untuk mengejar target shalat subuh berjamaah di 40 masjid itu, Bhakty ditemani oleh sopirnya dan tiga orang anak buahnya. ''Tiap hari kami berangkat dari rumah saya antara pukul tiga hingga pukul empat dini hari, tergantung jauh-dekat jarak masjid tersebut,'' kata lelaki yang mempunyai latar belakang pendidikan di bidang keuangan dan perbankan itu.

Berburu shalat subuh itu tidak hanya dilakukan di Jakarta, melainkan juga hingga ke luar kota. ''Karena Pandu Logistics mempunyai cabang di berbagai kota, hal itu jadi makin mudah,'' papar bapak tiga anak itu.

Setelah memulai dengan dirinya sendiri (ibda' binafsika), suami Ellin Susemsiati itu lalu mengajak para karyawannya untuk shalat subuh berjamaah di Masjid An-Nur, Perumahan Permata Timur, Kalimalang, Jakarta Timur, yang berlokasi di samping rumahnya, tiap hari Ahad. ''Mula-mula hanya 20 orang, akhirnya sampai 300 orang. Mereka saya kasih transport dan saya sediakan sarapan pagi,'' kata pengusaha yang membawahi sekitar 700 karyawan di Jakarta dan total sekitar 2.500 karyawan di seluruh Indonesia.

Setelah itu, kegiatan tersebut dibagi per wilayah. Mereka dipersilakan membuat laporan dan mengatur uang transport untuk karyawan yang shalat Shubuh berjamaah. Selain itu, Bhakty juga menggelar kegiatan qiyamullail yang dilanjutkan shalat Shubuh berjamaah tiap bulan sekali. Semua itu masih ditambah dengan pengajian rutin dan khataman Alquran yang digelar di kantornya tiap Jumat pagi. ''Kegiatan shalat Shubuh berjamaah, qiyamullail dan khataman Alquran itu telah berlangsung selama tiga tahun lamanya,'' ungkapnya seraya menyebutkan biaya transport yang dikeluarkannya rata-rata mencapai Rp 1 miliar per tahun.

Kegiatan shalat berjamaah itu diterapkan untuk seluruh waktu shalat di kantor Pandu Logistics. Tiap masuk waktu shalat, seluruh pimpinan dan karyawan langsung menghentikan aktivitas pekerjaan, lalu menuju mushalla kantor, dan melakukan shalat berjamaah. Usai shalat dilanjutkan dengan wirid, doa, dan bersalam-salaman. Dampak shalat berjamaah terhadap perusahaan positif sekali. ''Hal itu melahirkan ukhuwwah dan ketenangan bekerja, sehingga menciptakan suasana kerja yang sangat kondusif,'' tegasnya.

Dalam kehidupan pribadi, shalat fardhu berjamaah itu pun memberikan keberkahan luar biasa. ''Hikmah utama yang saya rasakan adalah ketenangan batin, kekhusyuan, dan selalu diberikan kemudahan. Tiap urusan selalu ada jalan keluarnya. Rezeki pun sering tidak terduga, selalu ada saja,'' paparnya.

Selain shalat fardhu berjamaah, amalan lain yang selalu dirutinkan oleh Bhakty adalah memperkuat sedekah, terutama kepada para karyawannya maupun orang-orang lain yang membutuhkan. Dia memberikan hadiah wisata ruhani ke beberapa negara Timur Tengah bagi karyawannya yang istiqamah menjalankan shalat shubuh berjamaah selama satu tahun tanpa henti. Sedangkan karyawan yang menjalankan shalat shubuh berjamaah selama enam bulan berturut-turut berhak mendapatkan kredit sepeda motor. Tiap tahun ia pun memberangkatkan haji belasan karyawannya.

Yang tak kalah menariknya, tiap bulan Ramadhan, ia selalu membayarkan THR di awal Ramadhan, supaya karyawan bisa memanfaatkannnya dengan sebaik mungkin untuk menyambut Ramadhan. Selain itu, ia pun memberikan uang buka puasa, uang ketupat, dan hadiah lebaran setengah bulan gaji. Total THR dan lain-lain selama Ramadhan itu hampir dua bulan gaji.

Kini, setelah selalu konsisten shalat fardhu berjamaah dan bersedekah, Bhakty Kasri menyimpulkan satu kata yang selalu menjadi perhiasan hidupnya, yakni ikhlas. ''Baik dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun bisnis, saya selalu ikhlas, berbaik sangka dan menyerahkan semua urusan kepada Allah SWT. Saya yakin Allah pasti menentukan hanya yang terbaik bagi kita,'' paparnya.