Meneladani Nabi Ibrahim

Senin, 20 Oktober 2014 00:07:35

 

Gema takbir berkumandang sepanjang malam dari masjid dan mushola di pelosok negeri ini. Alunan takbir pun masih bersuara saat pagi tiba. Tepatnya Ahad 10 Dz Hijjah 1435/ 5 Oktober 2014, Masjid An-Nuur yang terletak di Perumahan Permata Timur Kalimalang Jakarta Timur juga tengah bersiap menyelenggarakan sholat Idul Adha 1435.

Para jamaah datang berduyun-duyun. Jamaah bapak, ibu, muda, mudi bahkan anak-anak pun ikut dalam barisan sholat Idul Adha. Mereka datang dari beberapa wilayah di sekitar Kalimalang. Sembari menata barisan shaf, mereka bertakbir, bertahmid mengagungkan nama Allah.

Pagi itu, para jamaah menyelenggarakan shalat Idul Adha pukul 07.00 WIB. Sebelum menjalankan shalat Idul Adha, H Emil Azman Sulthoni bagian Peribadatan masjid An-Nuur mengumumkan perolehan hewan qurban tahun 2014.

Tahun 2014, perolehan qurban sapi sebanyak 7 ekor, sementara kambing sebanyak 18 ekor. Seluruh daging akan didistribusikan ke 915 mustahik yang berhak menerima daging hewan qurban. Sementara mustahik binaan berjumlah 77 orang. Jadi total seluruh mustahik yang menerima daging qurban adalah 992 orang.

Pelaksanaan sholat Idul Adha berjalan lancar dengan imam saudara Ustadz ……sedangkan khatib disampaikan oleh Ustadz H. Junaidi dengan mengambil tema ‘Meneladani Nabi Ibrahim dalam Segala Aspek kehidupan’.

Dalam khutbahnya, Ustadz Junaidi menjelaskan bahwa seluruh rentetan pelaksanaan haji yang menjadi rukun Islam kelima adalah bersuber dari kisah teladan Nabi Ibrahim. Karena itu, Nabi Ibrahim diabadikan dalam bacaan sholat lima waktu dalam sebuah doa untuk Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim dalam kisahnya mencari tuhan menjadi ujian tersendiri untuk Nabi Ibrahim yang dibesarkan dari keluarga penyembah berhala. Ibrahim melihat kebesaran alam yang diciptakan Allah, saat itulah ia berpikir bahwa tuhannya adalah alam itu, seperti matahari, bulan, bintang dan lainnya. Namun semua itu tidak memantabkan hatinya.

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata". Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS. Al-An’am [6]: 74-75)

Dari sosok kisah Nabi Ibrahim bisa diambil pelajaran, bahwa beliau beriman kepada Allah meski dengan kondisi yang sangat berbeda di sekitarnya, meski dengan keluarganya sekalipun. Bahkan ia juga berani berdakwah kepada raja Namrud tentang Allah.

Karena keberadaan penduduk sekitar sudah sedemikian berat menyembah berhala, akhirnya Nabi Ibrahim berinisiatif untuk menghancurkan berhala tersebut ketika para penduduk mencari hewan untuk persembahan ke hutan. 

Akhirnya pihak kerajaan mengetahui yang melakukan pengrusakan adalah Nabi Ibrahim, ia pun ditangkap dan dibakar hidup-hidup. Namun karena kekuasaan Allah, apa yang menyala itu tak merusak kulit Ibrahim, ia pun selamat.

Begitu juga pelajaran ketika Nabi Ibrahim diberi ujian oleh Allah berupa perintah menyembelih anaknya, Nabi Ismail. Karena kepasrahan dan ketawakalannya, Ibrahim melaksanakan perintah Allah. Lalu Allah menggantikan tubuh Ismail dengan domba besar. Itulah yang menjadi landasan perintah untuk berqurban bagi umat Islam.

Nabi Ibrahim telah mengajarkan kepada kita bagaiaman beriman kepada Allah dalam kondisi apapun. Ketegaran dan kekuatan iman Nabi Ibrahim telah mengantarkan dirinya mendapatkan gelar khalilullah (kekasih Allah).

Proses mencari tuhan dengan cobaan menghadang, tak menyurutkan nabi Ibrahim untuk beriman kepada Allah semata. Putra satu-satunya harus diikhlaskan untuk disembelih karena perintah Allah. Semua teladan itu harus menjadi penyemangat umat Islam untuk tetap beriman dalam kondisi apapun juga. Semoga kita dikuatkan iman, hingga mati dalam beriman, amin. (LINK POTO IDUL ADHA)