Idul Fitri di Masjid An-Nuur

Senin, 8 September 2014 14:47:55

Pagi sekitar pukul 06.00 di lingkungan Perumahan Permata Timur Kalimalang Jakarta Timur mulai dipadati para jama’ah, baik bapak, ibu, remaja mapun anak-anak. Mereka berbondong-bondong menghampiri sumber suara takbir yang ada di Masjid An-Nuur untuk menunaikan shalat Idul Fitri 1435 H/2014 M.

Para jama’ah yang datang memadati shaf masjid berasal dari warga sekitar Masjid An-Nuur, terutama warga kompleks perumahan Pertim. Setiap tahun, kegiatan shalat Idul Fitri yang diadakan di Masjid An-Nuur dipenuhi oleh para jamaah. Bahkan jalanan di kompleks tersebut ditutup karena jama’ahnya membludak. Tenda yang dipasang di teras masjid pun tak mampu menaungi jama’ah yang meluber ke jalan.

Penyelenggaraan shalat Idul Fitri yang bertepatan pada hari Senin 1 Syawal 1435 H/ 28 Juli 2014 ini digelar pada pukul 07.00. Adapun sebagai khatibnya adalah Ustadz H. Husnul Hakim dan sebagai imamnya adalah Ustadz H. Syarifudin Zaki, 

Dalam khutbahnya, Ustadz Hakim menyampaikan bahwa selama sebulan penuh bulan Ramadhan, umat Islam mendapatkan pendidikan yang luar biasa dari Allah SWT. Ibaranya umat Islam yang menjalankan puasa selama sebulan penuh dengan benar seperti ulat yang berproses menjadi kupu-kupu. Awalnya menjijikkan tapi akhirnya menjadi sesuatu yang indah dipandang.

Setelah menjalankan puasa Ramadhan, kita menjadi makhluk yang fitri, suci dan indah di dalamnya. Keindahan itu tidak dalam wujud fitri saja, melainkan ruhani juga. Hal ini bisa diwujudkan dalam sikap umat Islam yang menjalankan kejujuran, keikhlasan, peduli dengan sesama yang pada fase akhirnya adalah lahirnya ketaqwaan.

Ketika manusia sudah bertaqwa, maka Allah telah berjanji akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, Allah juga akan memudahkan segala urusannya, Allah juga akan menghapus dosa-dosanya, dan melipatgandakan pahalanya. “Itulah janji Allah kepada orang yang bertaqwa,” jelasny .

Ramadhan menurut Ustadz Hakim telah banyak mendidik umat manusia untuk bisa mencapai derajat tertinggi yaitu taqwa. Pelajaran yang bisa diambil dari puasa selama bulan Ramadhan adalah:

  1. Menghadirkan Allah. Ketika Ramadhan, kita merasa Allah dekat dengan kita, sehingga kita merasa diawasi setiap saat, Allah seperti berada di mana saja kita berada. Bayangkan, siang hari yang biasanya kita bisa makan dan minum, saat Ramadhan semua itu diharamkan, dan kita patuh atas aturan Allah itu, sehingga kita bisa menjalankan puasa hingga waktu berbuka. Kegiatan yang selalu menghadirkan Allah harus tetap dipertahankan pasca Ramadhan. Selama sebulan, pembiasaan itu harus dijaga dan ditingkatkan setelah Ramadhan pergi. Merasa diawasi, merasa Allah berada di sekitarnya, merasa Allah didekat kita, sehingga amal yang kita lakukan akan merasa diawasi oleh Allah.
  2. Sikap Sabar. Tidak ada keberhasilan hidup kecuali diawali dengan kesabaran. Ketika Ramadhan, siang hari kita diuji dengan kesabaran untuk tidak menjalankan sesuatu yang menyenangkan, seperti makan dan minum. Adanya kesabaran dalam diri, semua kenikmatan itu tercegah hingga waktu yang ditentukan. Hal ini menjadi bukti, bahwa sebenarnya kita bisa menjalankan kesabaran selama berpuasa. Kesabaran ini harus dilanjutkan di luar Ramadhan, sehingga kita menjadi pribadi yang mampu bersabar.
  3. Mengajarkan kita Berani. Selama sebulan penuh, kita mampu dan berani mengatakan tidak untuk melanggar syari’at Allah. Sesuatu yang halal pun tidak kita lakukan karena telah diharamkan oleh Allah. Artinya, selama sebulan kita sudah mampu menjadi pribadi yang berani mengatakan tidak ketika diajak untuk melakukan kemunkaran. Keberanian ini harus dipertahankan di bulan-bulan berikutnya.
  4. Melatih Kepedulian. Di bulan Ramadhan, kepedulian umat Islam meningkat. Kepedulian untuk saling berbagi dengan sesama juga meningkat. Halini dikarenakan di bulan ini ada peningkatan pahala dari apa yang dilakukan oleh umat Islam. Seharusnya kepedulian ini harus dipertahankan hingga bulan-bulan lainnya sehingga menjadikan pribadi muslim yang peduli. Janganlah kita seperti perempuan yang mengurai rajutan yang sudah jadi. Benang rajutan kesabaran, keikhlasan, kepedulian, keberanian terberai dengan amalan kita yang penuh dengan kemaksiatan dan berakibat pada dosa. Jika rajutan ini kita pertahankan akan menjadi sesuatu yang indah nantinya. “Akankah kita mengurai kembali rajutan yang sudah kita lakukan selama sebulan?” tutup Ustad Hakim dalam khutbahnya.