Memburu Lailatul Qadr

Senin, 18 Agustus 2014 10:01:42

Malam ke-21 bulan Ramadhan jamaah Masjid An-Nuur mulai memadati shaf masjid untuk menyelenggarakan shalat malam berjamaah sejak pukul 02.30 dini hari hingga 03.30 jelang sahur bersama.

Program tahunan ini, Masjid An-Nuur selain menyelenggarakan qiyamullail dan sahur bersama, juga menggelar tausiyah yang diisi oleh beberapa ustadz. Adapun pada malam 21 ini hadir sebagai penceramah adalah Ustadz H Jumharudin yang membahas tentang lailatul qadr.

Menurut Ustadz Jumharudin, Allah telah memilih waktu yang istimewa untuk umat Nabi Muhammad, yaitu bulan Ramadhan yang di dalamnya penuh keberkahan, dan ada satu malam yang kebaikannya berlipat-lipat yaitu lailatul qadr.

Pada malam lailatul qadr malaikat menyebar untuk mencari manusia yang taat dan beribadah dengan Allah secara ikhlas. Pada malam lailatul qadr Allah memilih manusia pilihan untuk diberi kebaikan yang pahalanya seperti beribadah selama seribu bulan lamanya

Pengajian malam ke-23 Ramadhan jamaah Masjid An-Nuur kian banyak, mereka tetap nampak antusias mengikuti rangkaian acara yang dijadwalkan pengurus masjid. Malam ke-23, penceramah yang hadir adalah Ustadz H. J. Felix Siauw dengan membahas tema seputar penjajahan Palestina oleh Israel.

Ustadz Felix memaparkan sekilas tentang sejarah konflik antara Palestina dan Israel. Ironis, tambah Ustadz Felix bahwa PBB sebagai organisasi keamanan dunia, sampai sekarang tidak pernah memberikan sanksi kejahatan perang yang telah dilakukan oleh AS dan Israel.

Sementara organisasi Islam OKI hanyalah terdiri dari pengecut-pengecut yang berkumpul karena ada kepentingan selain Islam dan sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka hanyalah boneka yang digerakkan AS. Bahkan mereka menutup pintu Rafah yang berhubungan langsung dengan Gaza serta menangkapi aktivis Islam yang membela saudara mereka di Palestina.

Ustadz Felix hanya memberi solusi untuk persoalan ini yaitu dengan khilafah. Khilafahlah yang akan memimpin dan mengkomandoi 1,5 milyar kaum muslim di seluruh dunia untuk berjihad. Khilafah dan Jihad! dua kata untuk mengubur Zionis Yahudi. Inilah satu-satunya solusi yang diberikan Allah dan Rasulnya kepada kita.

Pengajian dini hari di malam ke-23 semakin dipadati oleh jamaah yang ingin mendapatkan malam lailatul qadr. Tidak seperti malam ke-21, malam ke-23 jamaah sudah memenuhi teras masjid. Mereka menjalankan shalat tahajud berjamaah sejak pukul 02.30.

Malam ke-23 ini, hadir sebagai penceramah adalah Ustadz H. Mas’adi Sulthani dengan mengambil tema seputar kehidupan di dunia yang hanya sebatas mampir. Para jama’ah yang hadir pun mendengarkan dengan seksama hingga waktu sahur tiba.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Mas’adi mengatakan, bulan Ramadhan merupakan bulan luar biasa yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Yang mampu membedakan antara bulan selain Ramadhan dengan bulan Ramadhan adalah keimanan seseorang.

“Orang non Islam melihat bulan Ramadhan sesuatu yang biasa, tapi bagi umat Islam bulan Ramadhan sesuatu yang luar biasa, karena mengimani hikmah di dalam Ramadhan,” terangnya.

Menurut Ustadz Mas’adi, hidup di dunia ini sangat singkat, ibarat sekadar mampir saja, setelah itu menuju akhirat yang kekal sepanjang masa. Untuk itu, Allah telah memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk menggunakan bulan Ramadhan sebaik mungkin agar mendapatkan keistimewaan Ramadhan di malam lailatul qadr, yang di dalamnya kebaikannya mencapai seribu bulan.

Di bulan Ramadhan ini, manusia diajarkan untuk menyadari tujuan hidup di dunia. Pasalnya, saat ini banyak manusia yang lupa akan tujuan hidup di dunia ini. Untuk itu umat Islam harus husnul khaatimah dalam hidupnya, untuk itu manusia harus berjalan di jalan yang benar, dan itu tidak mudah dan harus diperjuangkan.

Menurut Ustadz Mas’adi, setidaknya ada lima hal untuk bisa hidup dengan benar di dunia ini; memperbanyak istighfar atas dosa selama ini, memperkuat ‘aqidah dan iman, menjalankan perintah Allah, mengingat kematian dan memperbanyak dzikir dan do’a kepada Allah.

Malam ke-29 Ramadhan menjadi malam puncak malam ganjil dari rangkaian puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Malam ganjil yang bareng dengan malam Jumat menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta ibadah shalat malam di Masjid An-Nuur.

Para jamaah yang hadir di malam ke-29 tak kalah banyak disbanding malam ke-27. Pasalnya dari kupon sahur yang disebar panitia jumlahnya hampir mencapai 1000 jamaah yang hadir mengiktui rangkaian shalat malam berjamaah di malam ganjil Ramadhan tahun ini.

Setelah menjalankan ibadah shalat malam berjamaah, para jamaah mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz H. Soleh Mahmud atau yang akrab disapa Ustadz Solmed. Ustadz ini sudah tidak asing di hadapan para jamaah, pasalnya kerap tampil di layar televise kita.

Umat Islam seharusnya banyak bersyukur karena memiliki bonus setiap tahunnya, yaitu kesempatan untuk bisa meraih malam lailatul qadr sebagai amal kebajikan yang pahalanya sebesar pahala ibadah selama 1000 bulan.

Pada bulan Ramadhan ini, menurut Ustadz Solmed, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil, yaitu; Pertama, Pengakraban Diri. Umat Islam harus melakukan pendekatan kepada Allah dengan sungguh-sungguh, caranya dengan memperbanyak ibadah, ketika kita sudah merasa akrabmaka doa akan mudah terkabul. Hal ini berbeda dengan yang belum kenal sama sekali, terkabulnya bisa lama.

Kedua, ibarat kendaraan, Masjid An-Nuur menjadi kendaraan kita untuk menuju kampong akhirat. Di mana dalam masjid ini ada sopir sebagai imam, kondektur sebagai muadzin dan penumpang sebagai jamaahnya. Jika kendaraan terus dirawat, imam dijaga, muadzin dipelihara dan jamaahnya kompak maka akan semakin mudah mencapai tujuan itu.

Ketiga, membiasakan diri dengan amalan di bulan Ramadhan. Misalnya saja membiasakan diri tetap shalat malam, istiqomah menjalankan shalat berjamaah, menjalankan shalat sunnah dan lain sebagainya. Sehingga dengan amalan shaleh ini akan mampu meningkatkan derajat manusia di sisi Allah.

Keempat, membiasakn diri untuk berzakat, sedekah, infak dan amalan baik lainnya. Di banding bayar pajak, zakat tidak ada apa-apanya karena hanya 2.5 persen. Sedangkan nikmat Allah yang sudah kita dapatkan sangat besar dan tak terhitung banyaknya. “Semoga Ramadhan kali ini mampu mengantarkan kita bisa istiqomah dengan amalan ibadah kita, amin,” paparnya.