Ust Muhammad Arifin Ilham Pimpinan Majelis Az-Zikra

Senin, 8 Desember 2008 17:01:47

Ust Muhammad Arifin Ilham
Pimpinan Majelis Az-Zikra


Tahun 2000-an saya mengenal ayahanda Muhammad Bhakty Kasry dalam sebuah pengajian, ketika itu saya diundang untuk menyampaikan tausiyah di perusahaannya, PT Pandu Siwi Sentosa. Beberapa bulan berikutnya saya diundang lagi sebagai pembicara pada acara yang sama.
Pada kesempatan yang lain, saya mengundang ayahanda untuk ikut berzikir di Majelis Az-Zikra, namun beliau menolak, karena merasa tidak dalam kondisi fit akibat kelelahan setelah seharian bekerja. Pada acara zikir berikutnya saya undang lagi, beliau juga tidak berkenan hadir dengan alasan yang sama, tapi akhirnya sang istri yang hadir ke Majelis Az-Zikra.
Alhamdulillah, ternyata sang istri cukup menikmati pengajian di Majelis Az-Zikra, lantas menceritakannya kepada ayahanda. Sejak itulah, beliau semakin dekat dengan Majelis Az-Zikra. Beberapa kali hadir dan memberikan support kepada jamaah pengajian di Majelis Az-Zikra.
Saya memanggil beliau ayahanda, karena beliau memiliki potensi sangat besar. Subhanallah, ternyata potensi itu bisa beliau terapkan secara maksimal sepanjang perjalanan hidupnya. Selain ahli ibadah, beliau juga seorang penggerak dakwah. Berkat aktivitas inilah, beliau dengan mudah memperoleh hidayah, rahmat dan berkah Allah, yang dampaknya dirasakan oleh anggota keluarga, karyawan dan orang-orang di lingkungannya.
Pernah pada tahun 2002, ketika kami berada di tepi pantai yang terletak di pulau Lombok. Saya mengatakan kepada beliau, "Sudah terlalu banyak karunia yang diberikan Allah kepada ayahanda, apa alasan ayahanda tidak ke masjid ketika shubuh?"
Mendengar pertanyaan ini, saya melihat beliau cukup tersentak. Beliau diam sejenak, lalu bertanya seputar shalat shubuh, hingga akhirnya menjawab dengan berikrar di depan saya, "Demi Allah, saya bersumpah tidak akan meninggalkan shalat shubuh berjamaah."
Subhanallah, ikrar yang beliau sampaikan di pantai menyisahkan perenungan di hati anggota rombongan. Ikrar ini adalah cermin kesungguhan beliau untuk selalu dekat dengan Allah. Ternyata hingga saat ini, beliau telah membuktikannya secara konsisten apa yang telah menjadi ikrarnya.
Lalu beliau bertanya kepada saya, "Apa yang harus saya laksanakan untuk merealisasikan ikrar itu?"
Setelah berpikir sejenak, saya menjawab pertanyaan beliau dengan santrun, beliau respek dengan anjuran saya untuk shalat shubuh berjamaah di masjid selama 40 hari berturut-turut. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan sifat malas yang melekat kuat dalam diri beliau. Alhamdulillah, sekarang beliau telah menikmati manisnya shalat shubuh berjamaah di masjid.
Ayahanda tergolong orang yang sangat cepat menerima kebenaran dan mengamalkannya. Beliau mengistilahkannya dengan cara 'mencicil'. Beliau selalu berusaha istiqamah dalam menegakkan shalat shubuh berjamaah di masjid atau mushalla, shalat dhuha, tahajud, puasa Senin-Kamis. Ini semua menurutnya perlu dicicil. Saya melihat, saat ini ada peningkatan dalam perjalanan spiritual beliau, tidak saja pada aspek individu tapi juga sudah menyentuh kehidupan sosial, seperti kedermawanannya membangun banyak masjid di berbagai tempat. Ini keagungan Allah yang diberikan kepada beliau.
Menurut saya, beliau adalah shohibul masjid atau orang yang gemar membangun dan memakmurkan masjid. Sesuai janji Allah bahwa siapa saja yang membangun masjid di bumi Allah, maka ia akan dibangunkan untuknya sebuah istana di surga-Nya. Beliau termasuk yang selalu menghidupkan masjid dengan berbagai syiar Islam yang menyejukkan hati umat.
Saya melihat kehidupan beliau semakin mendekati kematian karena memang kematian pasti akan menjemput setiap manusia. Di saat seperti itu, beliau semakin arif dan mulia akhlaknya, kharismanya tenang, santun dan bersahaja. Sikap besar hati yang ditunjukkan beliau adalah buah dari keistiqamahannya dalam beribadah kepada Allah. Satu hal lagi yang selalu beliau lakukan adalah selalu bermusyawarah dengan orang-orang shaleh dan guru-guru. Nasihat yang beliau terima dari mereka, selalu diamalkan dengan penuh kesadaran. Inilah yang membuat semakin besar gelombang hidayah-Nya bergemuruh di dalam dirinya.
Berkat kedekatannya dengan Allah, saya melihat perusahaan yang beliau pimpin semakin berkah. Beliau adalah seorang pengusaha dengan tingkat kesalehan ritual dan sosial yang sangat tinggi. Dalam bahasa agama Islam, beliau mampu merealisasikan konsep habluminannas dan habluminallah dengan baik. Kemampuan melaksanakan keduanya menjadikan beliau seorang dermawan yang sholeh, dan senang mengajak orang berbuat baik.
Bahkan untuk mengajak karyawannya agar selalu dekat dengan Allah, beliau berani memberikan bonus bagi karyawan yang mendirikan shalat shubuh berjamaah di masjid. Sebuah langkah berani dalam sebuah perusahaan besar seperti Pandu Siwi. Sikap inilah merupakan kunci awal terbukanya rezeki yang luar biasa bagi perusahaannya. Ayahanda Bhakty terbilang pengusaha yang cerdas. Beliau sangat yakin bahwa kebijakan agar karyawan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mengamalkan ajaran-ajaran-Nya, akan mempemudah turunnya rahmat dan berkah bagi perusahaannya. Dan inilah yang dinamakan sebagai manajemen langit.
Saya selalu mengatakan kepada beliau bahwa tahajud kunci rezeki, dhuha kunci rezeki, sedekah kunci rezeki, menjaga wudhu kunci rezeki, baca Al-Quran kunci rezeki, shalat kunci rezeki. Jadi, jika seorang hamba beribadah sepenuh hati maka Allah akan mengayakan hidupnya. Dalam hadis yang perlu dicatat dan telah diamalkan oleh beliau, "Barang siapa yang hidup mencari ridla Allah, dan berorientasi pada akhirat, maka Allah akan memberikan kecerdasan menyelesaikan urusan dunianya, Allah kayakan hatinya dan dunia datang untuknya." Filosofi hadis ini sudah dibuktikan oleh beliau.
Buku ini semoga bisa menjadi bahan evaluasi bagi diri ayahanda untuk melangkah lebih baik lagi di masa mendatang. Buku ini juga bisa menjadi tadzkirah, tarbiyah terutama bagi para pengusaha, terutama yang concern belajar manajemen langit.
Kita berdoa kepada Allah, semoga beliau diberi keikhlasan, istiqamah hingga akhir hayat beliau, serta menjadi pengusaha mukmin yang bisa dijadikan teladan bagi umat. Amien ya rabbal 'alamien

Depok, 15 Juni 2006