40 Hari Shubuh di 40 Masjid

Senin, 25 Januari 2010 11:23:34

Dr HM Bhakty Kasry
Direktur Utama PT Pandu Siwi Sentosa

 

Pagi, di pantai Senggigi, 22 Agustus 2002. Pagi itu, pemandangan di tepi pantai Senggigi, Lombok begitu menawan menampakkan keelokannya saat semburat cahaya matahari berjejalan di awan-awan.

Nampak beberapa orang berkumpul sedang asyik bercengkrama cukup serius di tepi pantai. Tatapan wajah mereka sesekali mengarah lepas ke pantai atau ke pesisir putihnya pantai. Percakapan mengalir selincah desir angin, menghangatkan suasana pagi itu. Sosok muda, pimpinan Majelis Az-Zikra, ust HM Arifin Ilham bersama pemilik PT Pandu Siwi Sentosa, Dr HM Bhakty Kasry, nampak larut dalam cengkrama.

Seperti biasa, percakapan antara mereka lebih didominasi untaian-untaian hikmah yang menyejukkan. Ust Arifin banyak mengupas persoalan-persoalan asasi dalam Islam dan bagaimana menjadi seorang hamba Allah dan khalifah-Nya yang baik di dunia. Dalam percakapan itu, tiba-tiba terucap kalimat sakti dari ust Arifin kepada Bhakty. "Ayahanda, sudah terlalu banyak karunia yang diberikan Allah kepada ayahanda, apa alasan ayahanda tidak menjalankan shalat shubuh di masjid?" tanya ust Arifin lirih.

Mendengar pertanyaan itu, Bhakty sedikit tersentak dan tertegun sejenak. Pertanyaan tajam itu telah mengiris jantung hatinya, bahwa selama ini dirinya kurang memperhatikan keutamaan shalat shubuh berjamaah di masjid. Keduanya larut dalam dialog panjang mengupas masalah shalat shubuh berjamaah. Pertanyaan-pertanyaan kritis kerap terlontar dari Bhakty, ia ingin memperoleh pengetahuan yang sesungguhnya tentang hakikat shalat. Hingga pada akhirnya, Bhakty sadar dan yakin sepenuh hati bahwa shalat shubuh berjamaah itu besar manfaatnya. Dengan mantab, ia memutuskan dan mengikrarkan diri di hadapan ust Arifin, Tuan Guru H Mustafa Umar untuk istiqamah melaksanakan anjuran shalat shubuh berjamaah itu. Beberapa orang yang ikut dalam rombongan itu bersyukur dan salut atas perubahan sikap Bhakty itu.

"Demi Allah, saya bersumpah tidak akan meninggalkan shalat shubuh berjamaah." Demikian Bhakty bersumpah.

Setelah mengikrarkan diri, Bhakty bertanya kepada ust Arifin, "Apa yang harus saya lakukan untuk itu, Ustad?"

Ust Arifin kemudian menguraikan beberapa kiat agar shalat shubuh berjamaah di masjid bisa dijalankan dengan istiqamah. Di antara saran Arifin adalah hendaknya menjalankan shalat shubuh berjamaah selama 40 hari berturut-turut di sebuah masjid atau mushalla. Hal ini untuk menghilangkan sifat malas yang hinggap pada dirinya. Lebih dari itu, Ust Arifin berharap agar sebelum ia melaksanakan anjuran itu, ia meneguhkan niat semata-mata untuk ibadah kepada Allah.  

Berat, malas dan kantuk. Demikian awal Bhakty menjalankan kebiasaan ini. Namun dengan penuh kesabaran dan keyakinan akan keutamaan shalat shubuh berjamaah, akhirnya ia bisa melewati masa-masa yang cukup berat itu. Demikian Bhakty selalu membuka lembaran paginya. “Alhamdulillah, sekarang aku mulai menikmati manisnya shalat shubuh berjamaah di masjid. Dan aku sudah mulai mengajak para karyawan untuk membudayakan shalat shubuh berjamaah di masjid,” katanya.

Apa yang menjadi anjuran ust Arifin untuk shalat shubuh berjamaah selama 40 hari tanpa putus telah Bhakty jalani dengan baik. Bahkan ia tidak hanya melaksanakannya di satu masjid saja tapi di 40 masjid yang berbeda. Bahkan ketika berada di luar kota pun ia jalankan. 

Luar biasa. Selama itu pula, Bhakty selalu menyusuri jalan-jalan mencari masjid untuk shalat shubuh berjamaah. 40 hari shalat di masjid yang berbeda, cukup memperkaya wawasan dan pengalaman batinnya. Bagi Bhakty, safarinya ke masjid-masjid ibarat menebar seribu hikmah spiritual di tengah gersangnya kehidupan ini. Pada saat itu pula, ia merasa semakin dekat dengan Allah.

Kini, Bhakty terus menghidupkan hatinya dengan sering ke masjid. Bahkan untuk mendekatkan dirinya dengan masjid ia bangun masjid bernama An-Nuur di samping rumahnya. Kegiatannya pun bervariasi, mulai dari TPQ, pengajian dhuha, hingga shalat malam berjamaah setiap sebulan sekali.

Bhakty berkeyakinan bahwa shalat shubuh berjamaah mempunyai banyak keutamaan di banding shalat fardlu lainnya. Di antaranya adalah Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nanti, cahaya itu ada dimana saja dan tetap bersama hingga masuk surga. Bahkan dalam sebuah hadis dikatakan bahwa barangsiapa yang shalat shubuh berjama'ah maka seakan-akan ia mengerjakan shalat malam penuh. “Aku ingin membudayakan shalat shubuh berjamaah ini mulai dari keluarga lalu karyawan, insyaAllah,” tuturnya. 

 

Maping Masjid Saat Traveling

Satu hal yang menjadi pertanyaan Dr HM Bhakty Kasry sebelum melakukan perjalanan ke luar kota atau ke luar negeri, yakni di mana masjid untuk menjalankan shalat shubuh berjamaah.

Bagi Bhakty, perjalanan ke luar kota atau luar negeri tak menjadikannya terlena tidak berjamaah di masjid. Baginya shalat shubuh berjamaah di masjid adalah yang nomor satu.

Maping masjid ini selalu ia lakukan ketika melakukan perjalanan ke luar negeri, terutama ketika berkunjung ke negara yang umat Islamnya minoritas. Sebab menurutnya, hampir dipastikan keberadaan masjid masih jarang, karenanya harus dijadwal sejak awal sebelum berangkat traveling.

Sebagaimana ketika di Amrika, China, Jepang atau negara lainnya. Ketika di Amerika beberapa waktu lalu, Bhakty bersama rombongan telah memiliki agenda beberapa masjid yang akan dikunjungi dan beberapa restoran yang menyediakan menu halal.

Selama enam hari, meski rombongan mengunjungi tempat-tempat menarik di Amerika seperti Patung Liberty, Niagara Falls, Times Square, Lincoln Memorial, Washington Monument, Air Space Musseum, dll mereka tak melupakan untuk tetap mendekati masjid, seperti Masjid Al-Hikmah dan Masjid Washington DC.

 

Perusahaan Bernuansa Islami

Jum'at pagi di kantor PT Pandu Siwi Sentosa (PSS). Jam menunjukkan pukul 06.35 WIB, sebuah mobil Jaguar warna silver berplat nomor B 262 CZ berhenti tepat di depan pintu kantor PSS di Bilangan Klender, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Sesaat terlihat seorang paruh baya berbaju koko putih turun dari mobilnya, dialah Dr HM Bhakty Kasry.

Bhakty mengakui kalau perusahaan yang dikelolanya lain dari pada yang lain. Nilai-nilai Islam menjadi acuan untuk diterapkan dalam bisnisnya. Setiap gerak yang dilakukan saat menjalankan pekerjaan, selalu didasarkan pada niat ibadah kepada Allah Swt. Ia sangat yakin, ketika nafas Islam mengalir di rongga orang Islam dan menjadi bagian dari detak nadinya, maka hidupnya akan memancarkan cahaya rahmat bagi lingkungan sekitarnya.   

Menurut Bhakty, perubahan yang terjadi pada dirinya ini dimulai sejak dirinya kehilangan tiga keluarga yang dicintainya. Kehilangan orang-orang tercinta mengantarkan Bhakty pada satu perenungan makna hidup yang hakiki. Bhakty selalu dihadapkan pada satu pertanyaan filosofis yang sangat pelik jawabannya, apa sebetulnya yang dikehendaki Allah dengan peristiwa itu? Sejak itulah, Bhakty mulai mengenal dan dekat dengan para ulama. Di antara ulama yang dekat dengannya adalah Tuan Guru H Musthafa Umar, Ust Muhammad Arifin Ilham, Ust Habib Muhdor, Habib al-Kaf, Tengku Zulkarnaen, Ust Jafar Umar Thalib, Ust Tohri Tohir, Ust Amang Syafrudin dan lain-lainnya.  

Kedekatan Bhakty dengan para ulama tak sekedar interaksi lahiriah saja, tapi lebih dari itu Bhakty banyak mendapatkan bimbingan ruhani dari para ustad yang dikenalnya. Terutama oleh Tuan Guru Mustafa Umar dan Ust Muhammad Arifin Ilham. Bhakty mengakui dirinya banyak mendapatkan gemblengan dari mereka. Dari mereka pulalah, Bhakty diajari bagaimana menghayati dan menyikapi ayat-ayat Allah, baik yang tersurat maupun yang tersirat. “Saya pertama kenal ulama dan akrab dengan Tuan Guru, beliau aku undang dalam acara syukuran di rumah. Bahkan beliau sekarang menjadi penasehat dalam keluarga dan perusahaan,” tuturnya.

Tradisi mendatangkan seorang ustad tidak hanya dilakukan di rumahnya atau di kantornya. Tapi juga ketika perusahaan mengadakan rapat tahunan, ia selalu mengundang beberapa ulama untuk memberikan taushiyah kepada seluruh karyawannya guna menyamakan visi dan misi perusahaan, selain itu sebagai media mempererat hubungan tali silaturrahim antarkaryawan.