Hobi Wisata Religi Bhakty Kasry

Jum`at, 27 Februari 2009 11:56:16


Oleh Mardiana Makmun


Wisata religi berburu masjid di dalam dan luar negeri menjadi hobi Bhakty Kasry, CEO & Chairman PT.Pandu Siwi Sentosa. Lewat perjalanan yang penuh nilai spiritualitas, ia ‘mengisi’ jiwanya sehingga lebih percaya diri, memiliki insting tajam, dan  perhitungan yang matang dalam mengambil keputusan di bisnis jasa pengiriman ekspres dan logistik.
Nama Bhakty Kasry di bisnis jasa pengiriman dan logistik cukup diperhitungkan. PT.Pandu Siwi Sentosa, perusahaan yang didirikannya pada 1992 lalu, kini merupakan perusahaan local yang menjadi pemimpin di bidangnya.
Namun, sukses bagi Bhakty Kasry, CEO & Chairman PT.Pandu Siwi Sentosa, bukanlah sebatas pada pencapaian dari sisi karir dan materi. “Bagi saya, sukses adalah bisa bermanfaat bagi orang banyak, serta sukses dunia dan akhirat,” katanya kepada Investor Daily, Selasa (23/2) di kantornya di Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Tak bisa dipungkiri, dengan perusahaan yang memiliki 154 cabang di seluruh Indonesia dan omset ratusan juta per hari, kini Bhakty mampu menghidupi sekitar 2.000 karyawan berikut keluarganya.
Namun, yang menarik, Bhakty tak hanya menghidup raga karyawannya. Lebih jauh dari itu, ia juga menghidupi jiwa mereka lewat sentuhan pengalaman religius yang menarik. Ia membangun masjid di lingkungan kantor dan perumahan tempatnya tinggal. Waktu Subuh dan Isya, adalah waktu yang diutamakannya untuk bisa melakukan sholat berjamaah.
Setiap tahun, ia memberangkatkan 15 orang karyawan untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Mekkah. Masih kurang, Bhakty juga mengajak beberapa karyawannya untuk berwisata keliling Indonesia dan dunia, mengunjungi tempat-tempat istimewa dan masjid yang berada di sana. “Pokoknya kalau jalan kemana pun, satu yang saya tuju, tempat makanan halal dan masjid,” ujar lelaki kelahiran Medan, 30 April 1953.
Salah satu masjid yang paling berkesan baginya adalah Masjid Kuba, masjid pertama yang didirikan Nabi Muhammad SAW dan Taj Mahal di India. “Subhanallah, arsitektur dan interior di dalamnya bagus sekali,” kata Bhakty yang dalam waktu dekat berencana mengunjungi sebuah masjid di Maroko, yang merupakan masjid terbesar ketiga di dunia.
Tidak hanya di luar negeri, di dalam negeri pun, Bhakty juga memburu masjid-masjid di Nusantara. Salah satunya adalah Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, Riau. Masjid ini dibangun pada 1832 di masa pemerintahan Sultan Mahmudsyah dan kabarnya menggunakan putih telur sebagai campuran semennya.
Uniknya, penggemar mobil mewah Jaguar dan Mercy itu  pernah 40 hari tidak putus menggelar sholat Subuh di 40 masjid berbeda di seluruh Jakarta. Berikutnya, selama 40 hari tanpa putus, ia sholat Subuh di 40 masjid yang tersebar di 40 kota di Indonesia. Semua kegiatan ini melibatkan beberapa karyawannya.
“Dari setiap perjalanan, tempat wisata, dan masjid yang saya kunjungi, hanya satu yang ingin saya lakukan, yaitu menghitung nikmat dan memuji kebesaran Tuhan,” kata ayah dari  Bellinda Firhandini, Mardhika Dwi Nugroho (alm), dan Bella Trihandini.
Berdampak Kepada Bisnis
Dari setiap perjalanan religiusnya, Bhakty mengaku mendapat ketenangan batin juga ketajaman insting.. Semua ini tentunya berdampak kepada segala keputusan yang diambilnya saat menjalani bisnis yang cukup keras dan penuh persaingan ini.
“Bisnis jasa pengiriman ekspres dan penyediaan logistik adalah bisnis yang high performance, padat karya, padat modal, butuh networking luas, tapi memerlukan kualitas pelayanan yang cepat, tepat, dan berkeseinambungan. Kalau tidak dijalani dengan tenang, bisa pegel saya,” kata Bhakty yang sempat bergabung dengan DHL selama 11 tahun dengan posisi terakhir sebagai nasional sales manajer.
 Hasilnya, kini perusahaannya menjadi pemimpin di bidang jasa pengiriman ekspres dan logistic, bersaing dengan perusahaan asing, seperti DHL, TNT, dan UPS. Bahkan, di tengah krisis global yang melanda, omset bisnisnya hanya turun 10-20% akibat beberapa kliennya yang terkena langsung dampak krisis ini.
“Tapi berkat terus bekerja keras, berdoa, dan melakukan efesiensi di overload cost, serta meminta harga yang kompetitif dari para vendor dan supplier, kami justru mendapat klien baru,” ungkap Bhakty yang memulai usahanya dengan satu mobil boks dan ruko pinjaman sebagai kantor.
Saat ini, klien Pandu Siwi berasal dari perusahaan di berbagai bidang, seperti pertambangan, minyak, dan gas. Lalu otomotif, farmasi, dan perbankan. Tahun ini, Pandu Siwi juga mendapat proyek senilai Rp25 miliar dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk pengiriman surat suara legislatif untuk wilayah Jawa Barat dan Indonesia Timur.
Untuk memperbesar perusahaan agar lebih bisa bersaing dengan asing, Bhakty berencana melepas sejumlah besar sahamnya di Pandu Siwi melalui Initial Public Offering (IPO) pada 2010 nanti. “Saya rela melepas saham saya demi kemajuan Pandu di masa depan,” kata Bhakty yang juga memiliki sejumlah perusahaan lain, yakni PT Indah Jaya Express, PT Tritama Bella Transindo,  PT Pandu Ellin Sejahtera, dan PT Pandu As Shofa.
Terkait rencana IPO ini, Bhakty juga terus melakukan program prioritas di perusahannya, antara lain memperbaharui legal entity dengan menerapkan sistem single legalitas. Jika ini bisa terselenggara nantinya Pandu bisa lebih solid lagi.
Sistem financial akan menggunakan sistem computerise agar bisa berjalan efektif dan efisien. Internal audit, kontroling, dan pembenahan standar opersional prosedur, juga menjadi program pengembangan manajemen ke depan.
Selama dua tahun terakhir, Pandu Siwi telah mampu menarik minat investor asing untuk melakukan kerja sama bisnis. Di antaranya perusahaan dari Emirates Arab, Singapura, Malaysia, dan sebagainya. “Kami juga sedang menjajaki kerja sama dengan perusahaan pengiriman dan logistik terbesar di Jepang,” ujarnya.