Hakekat Shalat

Rabu, 14 Januari 2009 16:18:51


Ust. Muhammad Arifin Ilham

Kita selalu bertanya tentang keadaan kita - Umat Islam - mengapa belum meraih kemenangan sebagai khalifah fil ardhi/ khoiru ummah/ ummatan wasathan/ ummatan wahidah. Padahal, di Indonesia, umat Islam terbesar, namun ini hanya besar kuantitas, nyatanya kita masih centang perenang, banyak tapi laksana buih di lautan, terombang-ambing dari berbagai krisis multi dimensi, semestinya kita umat teladan di negeri ini bagi umat lain, bahkan umat di seluruh dunia.
Tak sedikit aktivitas ritual dilakukan tapi hanyalah sebuah rutinitas bukan kualitas ritual, inilah yang menjadi sumber kelemahan kita. Padahal dalam al-Qur’an surat al-Mu’minun : 1-2 telah dijelaskan bahwa “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”
Sungguh menanglah atau beruntung orang-orang yang beriman jika khusyuk dalam shalatnya. Perhatikan kata “iman, shalat dan khusyuk”. Ketiganya merupakan syarat untuk meraih kemenangan.
1.    Iman
Hanya orang-orag yang beriman yang merindukan ibadah shalat, baginya suara azan adalah nada musikal terindah, azan baginya adalah bukanlah panggilan muazin tapi panggilan Allah SWT, ia sangat mencintai Allah. Kekasih selalu ingin berjumpa kekasihnya dan shalat perjumpaan  hamba dengan Sang Khalik. “(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”  (QS al-Baqarah: 46)
2.    Shalat
Shalat hakekatnya adalah zikir. “ Sunguh Aku ini adalah Allah , tidak ada Tuhan selain Aku , maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku,” (QS Thaha : 14)
Mengingat dan menyebut Allah dari takbir hingga salam, merupakan rangkaian dari aktivitas zikir. Berdiri, rukuk, sujud bersandarkan kepada teladan Rasululah SAW yang memberikan contoh langsung tata cara shalat yang benar.
3.    Khusyuk
Khusyuk adalah buah dari menjalankan shalat yang didasari dengan pemahaman dan bukan sekedar membaca saja mulai dari takbir hingga salam. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS an-Nisa: 43)
Sedangkan puncak dari kekhusyukan adalah akhlakul karimah. Imam Ali pernah berkata, “Sungguh orang berdusta di pagi hari tidak akan khusyuk shalat di siang hari.” Betapa hebatnya pengaruh dusta terhadap shalat .
Ringkasnya, shalat yang khusyuk akan melahirkan akhlak mulia, dan akhlak mulia buah dari kekhusyukan dalam bershalat.