Ust Tohri Tohir

Rabu, 31 Desember 2008 14:22:48

Ust Tohri Tohir
Pimpinan Yayasan Darul Aitam, Jakarta 

 

Kepedulian Sosialnya Tinggi 

Saya bersyukur karena Allah mempertemukan saya dengan pengusaha muslim yang punya semangat tinggi dalam berdakwah atau syiar Islam, HM Bhakty Kasry. Saya mengenal Bhakty ketika diundang mengisi pengajian di perusahaannya, PT Pandu Siwi Sentosa, tahun 2000.

Dalam berbagai kesempatan pengajian, wajah Bhakty selalu hadir bergumul dengan anggota masyarakat lainnya. Ia nampak khidmah dan khusyu’ mendengarkan untaian kata hikmah yang disampaikan oleh penceramah. Suatu hari saya diundang ke kediamannya untuk memberikan ceramah di lingkungan keluarganya maupun karyawannya. Saat berceramah, saya banyak memberikan solusi-solusi dan kiat-kiat alternatif dalam bekerja agar menjadi berkah dan diterima oleh Allah Swt.

Pertama kali kenal dengan Bhakty, saya pikir orangnya keras, ternyata dalam perjalannnya, sifat keras yang melekat dalam dirinya tidak saya temui. Ternyata dia seorang yang lembut dan ramah. Dugaan saya meleset, anggapan saya bahwa dia orangnya keras ternyata hatinya lembut, dugaan dia kaku dalam bersikap ternyata dia supel dan familiar. Ibarat buah manggis, dari luar nampak hitam tetapi ketika dibelah ternyata daging buahnya putih dan aromanya menggiurkan. 

Saya melihat pada diri Bhakty ada tiga hal pokok yang menyebabkan dirinya bisa sukses seperti sekarang ini. Pertama, ia sosok dengan kepekaan sosial sangat tinggi. Misalnya, memberangkatkan haji bagi karyawan yang berprestasi, menjadi donatur masjid, menjadi donatur tetap di beberapa yayasan dan panti asuhan.

Pandangannya jauh ke depan, ia tidak sekadar melihat anak yatim ketika ada momen-momen penting seperti hari raya Iedul Fitri, Iedul Adha, Muharram atau lainnya. Tapi dia selalu memberikan jatah bilanan kepada beberapa yayasan yatim piatu layaknya layaknya karyawan. Dia sosok figure pengusaha yang langka di Indonesia.

Kedua, ia sosok yang disiplin. Kedisiplinan yang mengakar kuat dalam dirinya diterapkan secara konsisten kepada seluruh karyawannya. Salah satu bentuk disiplinnya adalah ketika tiba waktu shalat lima waktu, ia selalu on time untuk menjalankannya secara berjamaah. Dan ketiga, ia sosok yang ikhlas. Hal ini bisa dilihat ketika ia memberikan sumbangan, ia tidak pernah mempersoalkan ada tidaknya kwitansi, sumbangan itu diberikan begitu saja, tanpa ada beban, seperti ungkapan Imam al-Ghazali, orang ikhlas itu kalau diibaratkan seperti membuang air kecil, setelah lepas ia tidak akan merasakan penyesalan atas sesuatu yang hilang darinya. Begitu juga yang terjadi pada dri Bhakty. 

Alhamdulillah, saat ini saya aktif memberikan pengajian di beberapa kantor BUMN dan 75 majelis taklim. Namun, saya sangat jarang menemukan orang seperti sosok Bhakty. Seorang pengusaha yang punya komitmen besar dalam syiar Islam. Orang yang sikapnya mirip Bhakty, saya lihat hanya ada beberapa orang saja. Saya salut kepadanya.

 

 

Saya melihat, dengan tiga sikap yang menonjol di atas, Bhakty mampu berperan banyak mengembangkan perusahaannya. Mungkin inilah salah satu bentuk berkah  dari pancaran sikapnya yang sensitif, disiplin dan ikhlas dalam beramal.

Bhakty juga selalu menanamkan kepada karyawannya bahwa perusahaan ini tidak saja milik dirinya, tapi juga milik karyawan semua, karenanya setiap karyawan diharapkan tumbuh di dadanya sikap rasa memiliki “sense of belonging” terhadap perusahaan, sehingga pekerjaan yang mereka hasilkan selalu yang terbaik.

Tak hanya itu, ia juga mempersilahkan kepada karyawannya untuk mendirikan shalat shubuh berjamaah dan diteruskan dengan pengajian yang diadakan setiap minggu pagi di mushala dekat kediamannya. Dari sini, ia menginginkan selain karyawan bertambah ilmunya juga mampu menjalin ukhuwah islamiyah dan ikatan silaturrahim yang kuat dengan para karyawan. Saya melihat, ia mencoba menularkan nikmatnya beragama seperti yang ia rasakan kepada para karyawannya. Kemampuannya berbagi rasa, pengalaman, dan nikmat, membuat seluruh karyawan simpati dan kagum kepadanya. Misalnya, mulai dari pengajian hingga pemberangkatan haji dan umrah gratis untuk karyawan.

Sosok Bhakty juga seorang dermawan. Kedermawanannya itu ia tunjukkan dengan banyak membantu yatim piatu, fakir miskin, termasuk membangun masjid dan lembaga pendidikan Islam. Misalnya, ketika ia bangun masjid besar di Lombok. Dalam menderma ia selalu mengutamakan pihak yang sangat membutuhkan, bukan dari mana asal daerahnya. Inilah yang melekat pada sosoknya.

Bhakty adalah sosok yang langka, ada orang menonjol dari segi materi tapi tidak dalam beragama. Saya melihat, Bhakty mampu menyeimbangkan antara keduanya. Dia selalu mencoba bagaimana antara kebutuhan dunia dan akhirat bisa dipenuhi dan seimbang.

Ia juga menerapkan perilaku islami di perusahaannya, ia mewajibkan karyawatinya mengenakan jilbab, dengan harapan agar para karyawatinya memiliki identitas muslimah yang bisa dibanggakan, tidak hanya sebagai simbol, melainkan perilakunya juga mencerminkan identitas itu. Kepedulian Bhakty terhadap karyawannya adalah wujud nyata tanggung jawabnya terhadap pembinaan kepribadian karyawannya, terlebih ia sebagai pimpinan perusahaan. Dari sinilah mengalir keberkahan dalam kehidupan Bhakty.

Bhakty menjalankan karirnya mulai dari bawah sebagai seorang sales. Karenanya, ia mengetahui banyak sikap dan sifat bawahannya berdasarkan pengalaman pribadinya ketika ia menjadi bawahan. Namun demikian dia tidak sombong. Ia selalu memberikan yang terbaik bagi yang berprestasi dalam perusahaanya.

Saya berharap Bhakty bisa istiqamah menjalankan usahanya ini, terutama komitmennya dalam syiar Islam. Dia sering mengikuti pengajian Ust Arifin Ilham, padahal untuk orang seperti dia sebenarnya membuang-buang waktu, tapi dia tidak merasakan itu, justru ia menikmatinya. Habluminallah-nya dia bagus begitu juga habluminannas. Saya hanya bisa berdoa agar dia mendapatkan cucuran rahmat dari Allah dan bisa istiqamah dalam menjalani kehidupan ini. Amien.

 

Jakarta, 3 Juni 2006